"Proksi rezim terus melancarkan serangan tak terhitung terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir," katanya.
Serangan terhadap kapal angkatan laut dan kapal dagang AS di jalur pelayaran internasional juga ia singgung. Trump menyebut semua aksi itu sebagai "teror massal".
"Kami tidak akan menoleransinya lagi," tambahnya. "Dari Lebanon hingga Yaman dan dari Suriah hingga Irak, rezim tersebut telah mempersenjatai, melatih, dan mendanai milisi teroris."
Menyusun Daftar Tuduhan
Dalam pidato singkatnya, Trump seolah menyusun daftar panjang keluhan Washington terhadap Teheran. Ia merunut sejarah kelam, mulai dari penyanderaan di Kedutaan Besar AS tahun 1979, pemboman barak Marinir di Beirut 1983 yang menewaskan ratusan tentara Amerika, hingga serangan mematikan terhadap USS Cole di tahun 2000.
Ia juga menuding pasukan Iran bertanggung jawab atas korban jiwa ratusan personel militer AS di Irak. Julukan "penyokong terorisme nomor satu di dunia" ia sematkan untuk negara tersebut.
Tak cuma itu, Trump bahkan menuduh rezim di Teheran membunuh puluhan ribu warganya sendiri di jalanan saat unjuk rasa berlangsung. Semua ini, baginya, adalah alasan yang cukup kuat untuk memastikan satu hal.
Kebijakan utama AS, khususnya di bawah pemerintahannya, harus tetap sama: rezim teroris ini tidak boleh memegang senjata nuklir. Titik.
Pengumuman itu tentu saja langsung mengguncang dunia. Operasi militer skala besar sudah dimulai. Apa yang terjadi selanjutnya di Teheran, masih menjadi tanda tanya besar bagi banyak pihak.
Artikel Terkait
Iran Balas Serangan AS-Israel, Sasarkan Pangkalan Militer AS di Qatar
Masa Depan Pelatih Persis Solo Dipertaruhkan Saat Jamu Persik Kediri
Israel dan AS Lancarkan Serangan Rudal, Iran Diguncang Ledakan di Beberapa Kota
Netanyahu Klaim Khamenei Tewas dalam Serangan, Iran Bantah