Kapolri Tegaskan Jamin Kebebasan Berpendapat, Minta Maaf atas Insiden Gesekan dengan Masyarakat

- Kamis, 26 Februari 2026 | 20:55 WIB
Kapolri Tegaskan Jamin Kebebasan Berpendapat, Minta Maaf atas Insiden Gesekan dengan Masyarakat

Dalam suasana buka puasa yang hangat di Auditorium Mutiara STIK/PTIK, Jakarta Selatan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan pesan penting. Acara yang dihadiri berbagai elemen ormas, pemuda, mahasiswa, hingga masyarakat sipil itu menjadi momen baginya untuk menegaskan komitmen. Polri, kata Sigit, bakal terus menjamin kebebasan berpendapat. Ruang untuk kritik masyarakat, menurutnya, adalah hal yang dilindungi.

“Ini kewajiban kita bersama, mengawal demokrasi,” ujarnya pada Kamis (26/2/2026).

Dia merujuk pada amanat UU No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Kewajiban Polri, lanjut Sigit, adalah memastikan penyampaian aspirasi bisa berjalan baik. Untuk itu, dia sudah memerintahkan seluruh jajarannya bertindak sebagai fasilitator. Anggota di lapangan diharap tidak anti terhadap suara warga.

“Polri saat ini mengubah paradigma. Dari yang awalnya sekadar menjaga, kini menjadi melayani,” tegas Sigit.

“Kami siap jadi fasilitator dan mediator. Agar semua proses berlangsung aman, lancar, dan tertib.”

Namun begitu, Kapolri juga memberikan catatan. Ruang demokrasi itu, katanya, harus dirawat bersama. Jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang justru menginginkan kerusuhan. Jika sampai disusupi kelompok tertentu, pesan aspirasi bisa terdistorsi. Bisa melenceng dari maksud semula.

Kalau sudah begitu, dampaknya bisa luas. Bukan cuma membahayakan keselamatan orang banyak atau fasilitas publik. Tapi juga berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi. Sigit mengingatkan, keadaan yang berlarut dan tak terkendali berisiko memicu perpecahan. Bahkan kemunduran di bidang sosial, budaya, hingga pertahanan keamanan.

“Ini yang harus selalu kita ingat,” ungkapnya.

“Kita punya kewajiban agar ruang demokrasi tidak ternodai. Jauh dari harapan kita menjaga persatuan.”

Di sisi lain, dalam kesempatan yang sama, Jenderal Sigit secara terbuka meminta maaf. Dia menyebut insiden-insiden gesekan antara aparat dan masyarakat di lapangan. Sebagai pimpinan institusi, dia mengakui hal itu kerap terjadi dan bisa menimbulkan korban di kedua belah pihak.

“Saya memohon maaf. Yakinlah, ini bukan tujuan yang kami cari,” ucap Sigit.

Dia tak menampik bahwa Polri masih jauh dari sempurna. Komitmen untuk berbenah terus diteguhkan. Terkait oknum anggota yang melakukan penyimpangan, Sigit berjanji akan memberi sanksi tegas. Prosesnya akan transparan dan akuntabel, terutama untuk tindakan yang dianggap mencederai rasa keadilan publik.

“Polri berkomitmen memenuhi harapan masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar