Karena misinya yang khusus, pengelolaan Sekolah Rakyat pun tidak boleh biasa-biasa saja. “Kita tidak sedang mengelola sekolah biasa,” tegas Gus Ipul. “Ini membangun jalan baru bagi anak-anak untuk keluar dari lingkaran ketidakberdayaan.”
Nah, dari konteks besar itulah pentingnya SKP dikaitkan. Gus Ipul bersikeras, dokumen ini bukan cuma urusan administrasi belaka. Ia harus jadi instrumen manajemen kinerja yang terkait langsung dengan misi mulia tadi: memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan yang berkualitas dan berkarakter.
Lalu, bagaimana caranya? Pertama, para guru harus paham betul konteks besarnya. SKP tidak boleh berdiri sendiri, melainkan selaras dengan visi pendidikan. Kedua, penyusunannya harus berbasis logika. Alurnya jelas: dari proses harian, output, outcome pada siswa, hingga impact jangka panjang. Ketiga, semuanya harus terukur. Target tahunan, bulanan, harian wajib konkrit.
Gus Ipul juga merinci tiga fungsi SKP. Ia harus menjadi kompas kinerja, alat bantu kerja, sekaligus pendorong disiplin dan akuntabilitas.
“Yang penting pahami tiga konteks ini dan bawa pulang pemahamannya,” pesannya menutup arahan. Sebuah pesan sederhana, tapi punya bobot yang dalam untuk pekerjaan mereka ke depan.
Artikel Terkait
Polisi Petakan Jalan Rusak dan Titik Rawan Kecelakaan di Ciputat Timur
Aksi Maling Motor di Depok Gagal Usai Ketahuan Pemilik Rumah
Ketua Komisi III DPR Usir Perwakilan Pengembang di Tengah Rapat Kasus Musala
AS Kenakan Tarif Hingga 143% untuk Panel Surya Impor dari Indonesia, India, dan Laos