Warga Iran Hidup dalam Ketegangan, Antara Harapan dan Ancaman Perang

- Rabu, 25 Februari 2026 | 12:40 WIB
Warga Iran Hidup dalam Ketegangan, Antara Harapan dan Ancaman Perang

Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berjalan, tapi suasana di lapangan jauh dari kata tenang. Di tengah penumpukan kekuatan militer AS di kawasan dan tenggat waktu yang diteken Donald Trump, napas warga Iran seperti tertahan.

Bagi banyak orang di sana, hidup seolah digantung di antara dua keadaan: bukan perang, tapi juga bukan damai. Itulah yang dirasakan sekelompok warga yang berbicara kepada kami. Setiap pagi, kata mereka, dimulai dengan pertanyaan yang sama: apakah serangan sudah dimulai, atau belum?

Kekhawatiran itu melahirkan dua skenario di benak mereka. Satu sisi, bayangan perang panjang yang menyakitkan dan merusak segalanya. Di sisi lain, muncul secarik harapan: mungkin saja semua ini berujung pada pelonggaran sanksi, bahkan perubahan rezim, yang membawa kehidupan yang lebih normal.

Namun begitu, ketidakpastian yang menggelayut inilah yang justru paling menghimpit. Banyak aktivitas sehari-hari terhenti. Orang-orang memilih berlindung di rumah, menunggu dengan cemas.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sendiri menyebut kondisi 'bukan perang bukan damai' ini berbahaya. Merugikan kepentingan nasional, katanya.

Suasana di dalam negeri sendiri masih belum pulih. Gelombang protes besar-besaran pada Januari lalu meninggalkan luka yang dalam. Baru-baru ini, peringatan 40 hari bagi para korban yang tewas dilaporkan berlangsung di beberapa tempat. Sementara itu, ekonomi terus merosot: harga melambung, nilai mata uang terjun bebas.

Cerita-cerita dalam laporan ini dikirimkan sejumlah warga Iran. Tentu saja, suara mereka tidak mewakili seluruh spektrum pandangan di Iran yang luas. Untuk alasan keamanan, setiap nama yang disebutkan di sini telah kami ubah.

Suara dari Tanah Air: Antara Cemas dan Berharap

Reza, seorang sopir bus dari Maku, punya pandangan tajam. Menurutnya, ketidakpastian ini bersumber dari sikap pemerintahnya sendiri yang dinilainya kaku. “Mereka cuma mau memberi konsesi sekecil mungkin,” ujarnya.

“Sayangnya, para pemimpin kita tidak mau melunak. Mereka takut citranya rusak. Dan di sekelilingnya, hampir tidak ada orang yang cukup berani dan realistis untuk memperingatkan betapa mengerikannya dampak perang bagi negara ini, bahkan bagi Republik Islam sendiri,” lanjut Reza.

Baginya, serangan AS jika benar terjadi akan jauh lebih dahsyat dibanding bentrokan 12 hari dengan Israel yang terjadi beberapa waktu lalu. “Bisa jadi ini perang panjang yang menyakitkan. Bukan cuma pukulan berat bagi rezim, tapi juga berisiko menghancurkan infrastruktur negara kita,” katanya.

Perang singkat itu saja sudah memakan korban besar: lebih dari 600 orang tewas dan ribuan luka-luka, plus kerusakan di sejumlah fasilitas vital. Belum lagi protes Januari yang berujung pada pemadaman internet, yang kerugian ekonominya ditaksir mencapai triliunan.

Saeed, seorang insinyur otomotif, mengaku punya ritual pagi yang muram. “Saya selalu buka berita dulu setelah bangun tidur, cek apakah serangan sudah terjadi atau belum,” katanya.

Dia menceritakan, ada sebagian warga yang justru menanti-nanti serangan itu. “Mereka optimis itu akan menjatuhkan Republik Islam. Mereka enggan membayangkan skenario buruknya, di mana serangan AS hanya terbatas dan tidak mengubah apa-apa,” ujar Saeed.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar