Justru itulah yang dia khawatirkan. Serangan terbatas yang gagal, menurutnya, hanya akan memberi alasan bagi pemerintah untuk menindas lebih kejam. “Itu sudah jadi opsi utama mereka, terutama setelah melihat respons brutal terhadap pengunjuk rasa Januari lalu,” tambahnya.
Persiapan dan Keputusasaan: Dari Selotip Jendela hingga Doa untuk Intervensi
Seorang pemuda dari Teheran yang kami hubungi mengiyakan. Katanya, di kalangan anak muda yang dia temui, dukungan untuk serangan AS justru tinggi. Alasannya sederhana: perang memberi harapan akan perubahan, sekalipun harapan itu berisiko. “Hidup kami sudah sulit sekali. Banyak dari kami kerja shift ganda, tapi tiap hari justru makin miskin,” keluhnya.
“Kami siap dengan cara apa pun agar Republik Islam hancur. Bahkan jika kami sendiri jadi korban, seperti banyak kawan kami yang tewas di tangan pemerintah sendiri bulan Januari lalu,” ucapnya lirih.
Kegelisahan itu merambah ke hal-hal praktis. Nasim, seorang editor di Karaj, bercerita tentang persiapannya. “Saya sudah tempel selotip di jendela, tentukan titik aman di dalam rumah kalau ada bom, dan rencanakan rute kabur ke luar kota. Saya takut jalanan macet total kalau pertempuran pecah,” ujarnya. Dia menduga serangan bisa terjadi akhir pekan ini, tapi seberapa besar dampaknya? Itu misteri.
Di tengah ketidakpastian, orang-orang ramai-ramai menimbun kebutuhan pokok, meski harga sudah tidak terjangkau. Beberapa bahkan mencairkan asetnya, khawatir sistem perbankan kolaps. Dunia usaha pun ikut kalang-kabut, banyak yang kini hanya terima pembayaran tunai.
Perasaan terpojok itu melahirkan ungkapan-ungkapan putus asa. Seorang ibu rumah tangga di Teheran berkata, “Banyak orang di sini bilang, ‘Trump, datanglah dan serang, bebaskan kami dari mereka’.”
Baginya, ini bukan soal mendukung perang. Tapi lebih pada melihatnya sebagai operasi pembebasan dari rezim yang dianggap jahat. “Orang-orang saling share tips ‘survival’ di Instagram. Banyak juga yang sudah tidak mengizinkan anaknya pergi ke sekolah,” tuturnya.
Ladan Moallem, seorang guru dari Bushehr, mencoba menjauhi berita demi kesehatan jiwanya. Tapi dia pun sampai pada kesimpulan yang suram. “Suka tidak suka, kita makin dekat dengan perang. Dan kita cuma bisa jadi penonton,” katanya.
“Karena meski 40 juta orang turun ke jalan sekalipun, pemerintah sudah tunjukkan mereka akan membunuh tanpa ampun. Nyawa tidak ada artinya bagi mereka. Kami ingin mereka pergi, dengan harga apa pun,” ujar Ladan, suaranya penuh kepedihan.
Ahmed, penjual furnitur di Yaftabad, menggambarkan suasana pasar yang sepi mencekam, padahal mendekati Idul Fitri. Dia sendiri sudah membeli perlengkapan darurat. Tapi pikirannya pelik. “Saya tidak mendukung perang. Tapi melihat penindasan di dalam negeri, satu-satunya jalan yang tersisa sepertinya cuma intervensi asing,” ujarnya.
“Akankah hasilnya menguntungkan rakyat? Mungkin tidak. Mungkin kita akan hancur, AS akan pergi, lalu terjadi kekacauan seperti di Irak. Tapi… bisa juga ini akhirnya membawa perubahan pemerintahan yang baik. Entahlah. Tidak ada yang tahu masa depan kita,” Ahmed menghela napas.
Farzaneh, seorang pensiunan 58 tahun, punya ritual malamnya sendiri: memeriksa jendela, mendengarkan tanda-tanda perang. “Saya putus asa, tapi harus tetap kuat untuk orang tua saya yang sudah lansia,” katanya. “Intinya, rakyat kecil seperti kami yang selalu dirugikan, baik perang terjadi ataupun tidak.”
Musim semi seharusnya membawa keceriaan, apalagi dengan Tahun Baru Iran (Nowruz) di depan mata. Tapi jalan-jalan di Teheran dan kota lainnya terasa lesu. Tidak ada sukacita, yang ada hanya kecemasan yang menggumpal, menunggu sesuatu yang tidak pasti entah itu kesepakatan di meja perundingan, atau suara sirene serangan pertama.
Artikel Terkait
Elemen Masyarakat Deklarasi Dukungan untuk Program Jaga Jakarta Polda Metro Jaya
Wamenpar: Pariwisata Berkelanjutan Jadi Keharusan untuk Tingkatkan Daya Saing Global
Brimob Polda Metro Jaya Bagikan Takjil untuk Pererat Silaturahmi
Mensos Gus Ipul Salurkan Bantuan Rp 776 Miliar untuk Warga Rentan di Bekasi