AS Pertimbangkan Izin Pengayaan Uranium Simbolis untuk Iran, Ancaman Serangan Masih Menggantung

- Minggu, 22 Februari 2026 | 17:15 WIB
AS Pertimbangkan Izin Pengayaan Uranium Simbolis untuk Iran, Ancaman Serangan Masih Menggantung

Washington Di tengah ketegangan yang hampir memuncak, tampaknya ada secercah celah. Pemerintahan Trump dikabarkan siap mempertimbangkan proposal yang membolehkan Iran melakukan pengayaan nuklir, tapi dengan syarat ketat: harus simbolis dan sama sekali tidak membuka jalan untuk membuat bom. Ini adalah sinyal langka di antara garis merah yang saling bersilangan. Di satu sisi, ada upaya terakhir untuk menghindari perang. Di sisi lain, ancaman militer bahkan yang menyasar langsung pemimpin tertinggi Iran masih sangat nyata di atas meja.

Standarnya memang tinggi. Para pejabat AS mengakui, rencana dari Teheran harus bisa meyakinkan banyak pihak yang skeptis, baik di dalam pemerintahan Trump sendiri maupun di kawasan Timur Tengah. “Presiden Trump akan siap menerima kesepakatan yang substansial dan yang bisa ia jual secara politis di dalam negeri. Kalau Iran mau mencegah serangan, mereka harus kasih kita tawaran yang tidak bisa kita tolak. Iran terus melewatkan kesempatan. Kalau mereka main-main, kesabaran kita tidak akan lama,” ujar seorang pejabat senior AS, seperti dikutip dari Axios, Minggu (22/2/2026).

Menlu Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat lalu mengatakan proposal Iran akan rampung dalam dua atau tiga hari ke depan. Tapi tenggat waktu itu berbarengan dengan peringatan dari pejabat AS dan Israel: Trump bisa saja menyerang paling cepat akhir pekan ini.

Di balik layar, situasinya tidak sepenuhnya hitam putih. Beberapa penasihat Trump justru menyarankan kesabaran. Argumennya, seiring waktu dan peningkatan kekuatan militer AS, posisi tawar Trump akan makin kuat. Tapi, bahkan para penasihat terdekatnya mengaku bingung. Mereka tidak benar-benar tahu apa yang akan diputuskan sang presiden, atau kapan.

“Presiden belum memutuskan untuk menyerang. Saya tahu itu karena kita belum menyerang. Dia mungkin tidak akan pernah melakukannya. Bisa saja dia bangun besok pagi dan bilang, ‘Sudah cukup!’” kata seorang penasihat senior Trump.

Penasihat itu mengungkapkan Pentagon sudah menyiapkan beragam opsi untuk presiden. “Mereka punya sesuatu untuk setiap skenario. Salah satu skenarionya menyingkirkan ayatollah, putranya, plus para mullah,” ujarnya, merujuk pada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan putranya, Mojtaba, yang dianggap sebagai calon pengganti. “Apa yang akan dipilih presiden? Tidak ada yang tahu. Saya kira dia sendiri pun belum tahu.”

Mengincar Khamenei

Rencana untuk membunuh Khamenei dan putranya itu bukan isapan jempol. Sumber kedua mengonfirmasi bahwa opsi tersebut sudah disampaikan kepada Trump beberapa minggu lalu. Penasihat senior lainnya menegaskan, “Trump tetap membuka semua opsi. Dia bisa memutuskan untuk menyerang kapan saja.”

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menanggapi spekulasi yang berembus. “Media boleh terus berspekulasi tentang pemikiran Presiden sesuka mereka, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang mungkin atau tidak mungkin dia lakukan,” katanya.

Secara publik, posisi AS dan Iran soal pengayaan uranium tampak berseberangan. Tapi komentar dari Araghchi dan pejabat AS tadi menunjukkan, mungkin masih ada ruang untuk kesepakatan. Saat ini, Iran memang tidak melakukan pengayaan karena sentrifugalnya hancur akibat serangan udara Juni lalu. AS dan Israel sudah ancam akan menyerang lagi jika pengayaan dilanjutkan.

Namun begitu, Khamenei bersikukuh Iran tidak akan melepaskan haknya untuk mengembangkan energi nuklir, yang katanya hanya untuk tujuan sipil. Sementara Trump berkali-kali menyatakan dia tidak ingin Iran bisa melakukan pengayaan.

Araghchi membantah beberapa hal. Dalam penampilannya di acara “Morning Joe” MSNBC hari Jumat, dia menyangkal AS meminta “pengayaan nol” dalam pembicaraan di Jenewa hari Selasa. Dia juga bantah Iran menawarkan penangguhan sementara program pengayaan. “Yang kita bicarakan adalah bagaimana memastikan program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya,” katanya. Sebagai imbalan, Iran akan ambil “langkah-langkah membangun kepercayaan” jika sanksi AS dicabut.

Pasca pembicaraan di Jenewa, utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, meminta Araghchi menyusun proposal terperinci. Seorang pejabat senior AS mengatakan, Witkoff dan Kushner menyampaikan posisi Trump adalah “nol pengayaan” di Iran. Tapi, jika proposal itu memuat “pengayaan kecil dan simbolis”, dan Iran bisa buktikan itu tidak berbahaya, AS akan pelajari.

Sejumlah sumber yang mengetahui perundingan menyebut, mediator dari Oman dan Qatar memberi pesan kepada kedua belah pihak: kesepakatan apapun harus memungkinkan kedua pihak mengklaim kemenangan, dan jika bisa, juga bisa diterima negara-negara Teluk dan Israel. Araghchi sendiri menyinggung hal ini. “Ini harus jadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Ini bagian yang sulit. Perlu mengakomodasi kepentingan dan kekhawatiran kedua belah pihak.”

AS Menunggu

Sekarang, kawasan itu seperti sedang menahan napas. Pejabat AS menegaskan, mereka akan tunggu proposal Iran sebelum menentukan langkah selanjutnya. Trump sendiri pada Jumat kemarin memberi pesan singkat: Iran “lebih baik menegosiasikan kesepakatan yang adil.” Dia klaim 32.000 tentara AS sudah dikerahkan.

Dalam konferensi pers, Trump juga menyoroti situasi dalam negeri Iran. “Rakyat Iran sangat berbeda dengan para pemimpin Iran. Ini situasi yang sangat menyedihkan. Saya sangat prihatin terhadap rakyat Iran. Mereka hidup di neraka,” ujarnya.

Araghchi mengatakan draf proposal Iran akan dibagikan ke AS setelah dapat persetujuan final dari pimpinan politik di Teheran. Rencananya akan mencakup komitmen politik dan langkah teknis untuk menjamin program nuklir Iran hanya untuk damai. Pejabat AS menekankan, proposal itu harus “sangat rinci” dan buktikan program nuklir Iran “tidak berbahaya.”

“Kita akan lihat apa yang mereka berikan secara tertulis. Berdasarkan itu, kita akan nilai seberapa serius mereka. Bola ada di tangan mereka sekarang,” kata pejabat itu.

Araghchi menyebut Rafael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB, terlibat dalam negosiasi dan sudah menyarankan “langkah-langkah teknis” untuk mencegah pengalihan program ke tujuan non-damai. Langkah teknis itu bisa berarti kembalinya inspektur PBB dengan mandat pemantauan kuat, serta penanganan terhadap 450 kg uranium yang sangat diperkaya yang terkubur di fasilitas nuklir Iran akibat bom AS dan Israel sebelumnya.

Semuanya kini tergantung pada dokumen yang akan datang dari Teheran. Dan pada keputusan satu orang di Gedung Putih.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar