Araghchi membantah beberapa hal. Dalam penampilannya di acara “Morning Joe” MSNBC hari Jumat, dia menyangkal AS meminta “pengayaan nol” dalam pembicaraan di Jenewa hari Selasa. Dia juga bantah Iran menawarkan penangguhan sementara program pengayaan. “Yang kita bicarakan adalah bagaimana memastikan program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya,” katanya. Sebagai imbalan, Iran akan ambil “langkah-langkah membangun kepercayaan” jika sanksi AS dicabut.
Pasca pembicaraan di Jenewa, utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, meminta Araghchi menyusun proposal terperinci. Seorang pejabat senior AS mengatakan, Witkoff dan Kushner menyampaikan posisi Trump adalah “nol pengayaan” di Iran. Tapi, jika proposal itu memuat “pengayaan kecil dan simbolis”, dan Iran bisa buktikan itu tidak berbahaya, AS akan pelajari.
Sejumlah sumber yang mengetahui perundingan menyebut, mediator dari Oman dan Qatar memberi pesan kepada kedua belah pihak: kesepakatan apapun harus memungkinkan kedua pihak mengklaim kemenangan, dan jika bisa, juga bisa diterima negara-negara Teluk dan Israel. Araghchi sendiri menyinggung hal ini. “Ini harus jadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Ini bagian yang sulit. Perlu mengakomodasi kepentingan dan kekhawatiran kedua belah pihak.”
AS Menunggu
Sekarang, kawasan itu seperti sedang menahan napas. Pejabat AS menegaskan, mereka akan tunggu proposal Iran sebelum menentukan langkah selanjutnya. Trump sendiri pada Jumat kemarin memberi pesan singkat: Iran “lebih baik menegosiasikan kesepakatan yang adil.” Dia klaim 32.000 tentara AS sudah dikerahkan.
Dalam konferensi pers, Trump juga menyoroti situasi dalam negeri Iran. “Rakyat Iran sangat berbeda dengan para pemimpin Iran. Ini situasi yang sangat menyedihkan. Saya sangat prihatin terhadap rakyat Iran. Mereka hidup di neraka,” ujarnya.
Araghchi mengatakan draf proposal Iran akan dibagikan ke AS setelah dapat persetujuan final dari pimpinan politik di Teheran. Rencananya akan mencakup komitmen politik dan langkah teknis untuk menjamin program nuklir Iran hanya untuk damai. Pejabat AS menekankan, proposal itu harus “sangat rinci” dan buktikan program nuklir Iran “tidak berbahaya.”
“Kita akan lihat apa yang mereka berikan secara tertulis. Berdasarkan itu, kita akan nilai seberapa serius mereka. Bola ada di tangan mereka sekarang,” kata pejabat itu.
Araghchi menyebut Rafael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB, terlibat dalam negosiasi dan sudah menyarankan “langkah-langkah teknis” untuk mencegah pengalihan program ke tujuan non-damai. Langkah teknis itu bisa berarti kembalinya inspektur PBB dengan mandat pemantauan kuat, serta penanganan terhadap 450 kg uranium yang sangat diperkaya yang terkubur di fasilitas nuklir Iran akibat bom AS dan Israel sebelumnya.
Semuanya kini tergantung pada dokumen yang akan datang dari Teheran. Dan pada keputusan satu orang di Gedung Putih.
Artikel Terkait
Dua Bocah Tewas Tenggelam di Kolam Bekas Galian Ponorogo
Trump Usulkan Usaha Patungan dengan Iran untuk Pungutan di Selat Hormuz
BGN Pastikan Pengawasan Ketat untuk Anggaran Program Makan Bergizi Gratis
DKI Jakarta Ingatkan Calon Haji Persiapkan Kesehatan Jelang Keberangkatan