Kepemimpinan Berbasis Maslahat: Pesan Awal Tahun dari Masjid Ibn Khaldun

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:50 WIB
Kepemimpinan Berbasis Maslahat: Pesan Awal Tahun dari Masjid Ibn Khaldun

Bogor – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Ibn Khaldun pada Jumat (2/1/2026) itu. Di awal tahun baru 2026, jamaah yang hadir mendapatkan pesan khusus tentang kepemimpinan dari Wakil Rektor UIKA Bogor, Hambari, M.A., Ph.D.

Dalam khutbah Jumatnya, ia mengangkat tema yang cukup mendasar: "Kepemimpinan Berbasis Maslahat" atau Maslahat Based Leadership (MBL). Gagasan ini, menurutnya, adalah fondasi yang tak boleh diabaikan dalam memimpin di bidang apa pun.

Hambari menjelaskan, dalam Islam, memimpin itu bukan sekadar soal kedudukan. Lebih dari itu, ia adalah amanah besar. Tujuannya jelas: mendatangkan maslahat (kebaikan) dan mencegah mafsadat (kerusakan). Tanggung jawabnya ganda, baik secara moral kepada sesama maupun spiritual di hadapan Allah SWT.

“Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin wajib memastikan kebijakan dan tindakannya menghadirkan kebaikan seluas-luasnya dan menutup pintu kerusakan sekecil apa pun. Inilah esensi dari Maslahat Based Leadership,” tegas Hambari.

Ia lalu memaparkan prinsip-prinsip utamanya. Pertama soal integritas. Nilai kejujuran, amanah, dan profesionalisme harus dijunjung tinggi. Tanpa itu semua, kata dia, seorang pemimpin akan kehilangan kehormatan dan kepercayaan. Legitimasi pun bisa luntur.

Prinsip kedua berkaitan dengan tindakan nyata. Seorang pemimpin dituntut aktif jalb al-mashalih, yaitu mendatangkan manfaat. Ia harus bergerak menciptakan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian. Bukan cuma mencegah masalah, tapi juga menghadirkan solusi dan harapan baru.

“Pemimpin yang baik bukan hanya mencegah masalah, tetapi juga menghadirkan solusi dan harapan,” ujarnya.

Lalu yang ketiga adalah prinsip mencegah kerusakan (dar’u al-mafasid). Di sini, seorang pemimpin harus punya nyali untuk mencegah kemungkaran. Setiap kebijakan perlu dikaji matang, mempertimbangkan segala risiko agar tidak malah menimbulkan ketidakadilan atau konflik. Kebijaksanaan dan kehati-hatian jadi kunci.

Di sisi lain, Hambari juga menekankan bahwa kepemimpinan model ini harus punya orientasi luas. Tidak boleh egois atau hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Kepemimpinan harus berpihak pada kemaslahatan bersama dan menjaga lingkungan. Itu juga bagian dari amanah, tuturnya.

Khutbah di awal tahun ini seperti menjadi refleksi bersama. Bagi banyak jamaah, pesannya mengingatkan bahwa setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, entah di lingkup formal, keluarga, atau masyarakat.

“Setiap dari kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Mari jadikan tahun baru ini sebagai momentum menghadirkan maslahat di mana pun kita berada,” pungkas Hambari mengakhiri khutbah.

Pesan itu menggantung, memberikan warna tersendiri bagi perjalanan di tahun yang baru dimulai.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar