"Baru dua kali. Yang pertama waktu bulan puasa juga," ungkapnya.
Informasi kewaspadaan dari pihak kelurahan sebenarnya sudah disampaikan melalui RT dan RW. Namun, menurut istri Zoko, Khotimah, kenaikan air kali ini terjadi dengan kecepatan yang di luar perkiraan, meski status siaga telah diberlakukan.
"Biasanya ada laporan siaga satu, siaga dua. Tadi sudah siaga, tapi naiknya cepat," ujar Khotimah.
Dampak pada Aktivitas dan Rencana Masa Depan
Keluarga yang terdiri dari Khotimah, suami, dan ketiga anaknya ini memastikan semua anggota keluarga dalam kondisi selamat. Namun, dampak ekonomi langsung terasa. Khotimah terpaksa meliburkan usaha dagang gorengan dan takjilnya yang biasa berjualan di pinggir jalan. Fokusnya kini beralih ke membersihkan rumah dari sisa-sisa lumpur dan genangan.
Pengalaman berulang ini akhirnya mendorong keputusan besar. Khotimah dan keluarganya berencana pindah dari lokasi tersebut setelah Lebaran, mencari tempat tinggal baru yang lebih tinggi untuk menghindari risiko banjir di masa mendatang.
"Niat pindah habis Lebaran. Sudah ada rencana cari tempat yang lebih tinggi," tegasnya.
Keputusan keluarga ini mencerminkan keinginan untuk mencari rasa aman dan stabilitas, setelah berkali-kali diterpa kejadian yang mengganggu ketenangan hidup dan penghidupan mereka.
Artikel Terkait
Anak di Lahat Tega Bunuh dan Mutilasi Ibu Kandung Gara-gara Tak Diberi Uang Judi
Dubes UEA Ungkap 85% Serangan Iran Arahkan ke Negara Teluk dan Yordania
Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Kendaraan Listrik di Magelang
China Perluas Layanan Kereta Cepat untuk Anjing dan Kucing ke 121 Stasiun