Nah, di sisi lain, ada tekanan dan harapan dari pusat. Presiden Prabowo Subianto disebutkan menekankan pentingnya hak masyarakat untuk dapat informasi yang benar. Peran TVRI dianggap strategis, bukan cuma untuk menyampaikan berita, tapi juga menjaga persatuan dari ancaman hoaks.
"Arahan Presiden jelas. Kami harus memastikan informasi yang jujur dan berlandaskan Pancasila sampai ke semua daerah," tambah Iman.
Harapan serupa datang dari Bupati Jayawijaya, Atenius Murip. Dalam pertemuan itu, dia berharap pemancar digital dari Kominfo bisa segera direalisasikan. Alasannya praktis sekaligus mendesak.
"Dengan siaran TVRI yang optimal, program pemerintah bisa tersampaikan utuh. Dan yang tak kalah penting, warga di sini bisa nonton Piala Dunia 2026 nanti," kata Atenius.
Memang, bagi masyarakat di pegunungan, televisi bukan sekadar hiburan. Itu adalah jendela informasi yang menghubungkan mereka dengan dinamika di luar lembah. Tanpa siaran yang stabil, mereka terpaksa bergantung pada koneksi internet yang seringkali tak bersahabat.
Kini, bola ada di pihak TVRI. Optimalisasi pemancar yang ada menjadi langkah darurat, sambil menunggu proyek digital dari pemerintah pusat benar-benar turun. Targetnya satu: agar masyarakat Jayawijaya tidak lagi hanya jadi penonton pasif di era banjir informasi.
Disusun dari keterangan resmi dan audiensi di kantor LPP TVRI, Jakarta.
Artikel Terkait
Herdman Andalkan Pemain Lokal untuk Piala AFF 2026
Anggota DPRD DKI Kritik Balasan Foto AI di Aplikasi JAKI, Desak Sanksi Tegas
Harga Sembako Masih Fluktuatif Pasca-Lebaran, Daya Beli Belum Pulih
Di Gregorio Jadi Pahlawan, Juventus Kalahkan Genoa dan Dekati Zona Liga Champions