Jakarta – Laporan dari kantor pusat TVRI.
Upaya pemerataan siaran televisi di wilayah pegunungan Papua kembali digenjot. Kali ini, fokusnya di Kabupaten Jayawijaya.
Komitmen LPP TVRI untuk memperkuat infrastruktur di Papua Pegunungan memang bukan hal baru. Tapi, jalan yang ditempuh ternyata tak semulus yang dibayangkan. Setelah pemadaman siaran analog pada 2022, wilayah itu seperti terputus. Pemancar lama mati, sementara pengganti digitalnya tak kunjung datang.
Iman Brotoseno, Direktur Utama LPP TVRI, mengakui hal ini. Menurutnya, TVRI sebenarnya masih menunggu pemancar digital dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Proyeknya masuk dalam skema DBS atau Digitalization of Broadcasting System. Sayangnya, proyek itu molor.
"Karena DBS tertunda, kami harus cari solusi lain. Masyarakat di Jayawijaya sudah terlalu lama cuma mengandalkan media sosial untuk dapat informasi. Itu tidak cukup," ujar Iman.
Pernyataan itu disampaikannya Kamis lalu, saat menerima kunjungan audiensi Pemerintah Kabupaten Jayawijaya di Jakarta.
Faktanya, cakupan siaran TVRI nasional saat ini baru sekitar 75 persen. Masih ada sisa 25 persen wilayah yang belum terjangkau, terutama di daerah 3T Tertinggal, Terdepan, Terluar. Jayawijaya termasuk di dalamnya.
Nah, di sisi lain, ada tekanan dan harapan dari pusat. Presiden Prabowo Subianto disebutkan menekankan pentingnya hak masyarakat untuk dapat informasi yang benar. Peran TVRI dianggap strategis, bukan cuma untuk menyampaikan berita, tapi juga menjaga persatuan dari ancaman hoaks.
"Arahan Presiden jelas. Kami harus memastikan informasi yang jujur dan berlandaskan Pancasila sampai ke semua daerah," tambah Iman.
Harapan serupa datang dari Bupati Jayawijaya, Atenius Murip. Dalam pertemuan itu, dia berharap pemancar digital dari Kominfo bisa segera direalisasikan. Alasannya praktis sekaligus mendesak.
"Dengan siaran TVRI yang optimal, program pemerintah bisa tersampaikan utuh. Dan yang tak kalah penting, warga di sini bisa nonton Piala Dunia 2026 nanti," kata Atenius.
Memang, bagi masyarakat di pegunungan, televisi bukan sekadar hiburan. Itu adalah jendela informasi yang menghubungkan mereka dengan dinamika di luar lembah. Tanpa siaran yang stabil, mereka terpaksa bergantung pada koneksi internet yang seringkali tak bersahabat.
Kini, bola ada di pihak TVRI. Optimalisasi pemancar yang ada menjadi langkah darurat, sambil menunggu proyek digital dari pemerintah pusat benar-benar turun. Targetnya satu: agar masyarakat Jayawijaya tidak lagi hanya jadi penonton pasif di era banjir informasi.
Disusun dari keterangan resmi dan audiensi di kantor LPP TVRI, Jakarta.
Artikel Terkait
Trump Apresiasi Kontribusi Pasukan Perdamaian Indonesia di Forum AS
Pendaftaran Juragan Jaman Now Season 5 Ditutup, 237 UMKM Bersaing
Forkopimda Sumsel Gelar Pengajian Ramadan Perkuat Sinergi Jaga Keamanan
Gubernur Sumut Tinjau DAS Tukka, Fokuskan Penanganan Banjir dengan Sabo Dam