Hasil TKA SMA 2025: Alarm Merah untuk Fondasi Pendidikan

- Senin, 29 Desember 2025 | 10:06 WIB
Hasil TKA SMA 2025: Alarm Merah untuk Fondasi Pendidikan
Refleksi Hasil TKA

Angka-angka itu akhirnya keluar juga. Laporan resmi Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk SMA terbit, dan hasilnya bikin kita harus menarik napas sejenak. Bahasa Indonesia bertahan di zona aman, angka lima puluhan. Tapi lihat Bahasa Inggris dan Matematika? Jauh. Nilainya hanya berkutat di kisaran dua dan tiga puluhan. Ini bukan data untuk dicari kambing hitamnya. Ini lebih seperti lampu peringatan yang menyala terang, menandakan ada yang perlu kita perbaiki dari dasar.

Menurut sejumlah pengamat, TKA SMA 2025 ini jangan cuma dilihat sebagai rutinitas tahunan. Ia adalah cermin, sayangnya retak. Rerata yang jeblok di dua mata pelajaran kunci itu menunjukkan masalahnya bukan cuma pada satu titik. Fondasi belajarnya yang goyah. Yang lebih menyakitkan, kesenjangan antar daerah terlihat begitu nyata. Beberapa provinsi bisa dapat hasil lumayan, sementara yang lain tertinggal jauh. Ini realita, bukan sekadar asumsi.

Pemerintah sendiri sudah bilang, TKA bukan penentu kelulusan. Memang benar. Tapi pernyataan itu nggak sepenuhnya menenangkan. Soalnya, meski bukan buat lulus, angka-angka ini tetap dipakai orang untuk menilai mutu pendidikan. Jadi, kalau kita mengabaikannya sama sekali, ya salah. Tapi kalau terlalu dianggap berat, juga nggak tepat.

Nah, di sinilah bahayanya. Gampang banget kan nyalahin siswanya? Atau menyudutkan zaman sekarang yang penuh gawai, atau sisa-sisa efek pandemi. Tapi kalau mau jujur, refleksi yang lebih dalam justru mengarah ke sistem. Pembelajaran di kelas yang kerap cuma kejar tayang materi, bukan sampai ke pemahaman. Kurikulum bergerak cepat, tapi kesiapan guru dan fasilitas di lapangan? Nggak selalu bisa mengimbangi. Belum lagi seabrek tugas administratif yang bikin energi ngajar terkuras.

Sekarang, perhatian sudah beralih ke persiapan TKA untuk SD dan SMP tahun 2026. Jadwal sudah dirancang, simulasi akan digelar, dan integrasi dengan Asesmen Nasional sudah diumumkan. Di atas kertas, semuanya tampak rapi dan siap. Tapi pengalaman dari TKA SMA ngasih pelajaran berharga: kerapian sistem belum tentu menjamin kedalaman belajar. Platform bisa jadi canggih, tes bisa terintegrasi, tapi kalau proses belajar-mengajar sehari-hari nggak berubah, hasilnya cuma akan datang lebih cepat. Bukan lebih baik.

Harapannya sih, hasil TKA jenjang bawah nanti bisa lebih bagus. Tapi realitanya, banyak sekolah masih berjuang. Sarana terbatas, jumlah guru nggak ideal, ditambah tuntutan laporan yang numpuk. Kita minta anak-anak siap, tapi ekosistem pendukungnya aja sesak napas. Akhirnya, persiapan tes sering menyempit jadi sekadar latihan soal dan bimbingan intensif mendadak. Jalan pintas yang mungkin bikin tenang sesaat, tapi rapuh banget untuk jangka panjang.

Masalahnya bukan terletak pada niat pemerintah yang buruk. Jarak antara kebijakan dan pelaksanaan di lapanganlah yang sering kali terlalu jauh. Ketika jadwal dan sistem sudah fix, sementara penguatan cara mengajar masih lambat, tes berisiko cuma jadi alat ukur yang datang sebelum perbaikan terjadi. Kalau TKA memang tujuannya untuk pemetaan, maka tindak lanjutnya harus konkret. Misalnya, pendampingan khusus buat sekolah dan daerah yang nilainya rendah, penguatan literasi-numerasi dari awal, dan pelatihan guru yang berkelanjutan serta sesuai kebutuhan nyata di kelas.

Di titik ini, peran sekolah krusial. Persiapan TKA harusnya jadi momentum untuk membenahi cara belajar, bukan cuma cara menguji. Literasi harus hidup dalam keseharian, numerasi diajarkan dengan konteks yang nyata, dan Bahasa Inggris diperkenalkan sebagai alat komunikasi, bukan hafalan rumus gramatikal semata. Semua itu butuh waktu panjang, konsistensi, dan dukungan kebijakan yang fokus pada proses, bukan sekadar hasil akhir.

Kita kadang terlalu percaya pada perubahan nama, skema baru, atau integrasi sistem. Seolah-olah dengan itu, semuanya akan otomatis membaik. Padahal, pendidikan bukan aplikasi smartphone yang bisa di-update versinya dalam semalam. Ia bekerja melalui relasi manusia yang kompleks di ruang kelas: antara guru yang memahami, murid yang didengarkan, dan kurikulum yang relevan dengan kehidupan mereka.

Belajar dari TKA SMA artinya berani mengakui bahwa angka rendah bukan aib bagi siswa. Itu adalah sinyal untuk seluruh sistem. Sinyal itu harus dibaca dan ditindaklanjuti sekarang, sebelum kita melangkah ke tes untuk jenjang yang lebih dini. Kalau diabaikan, TKA SD dan SMP nanti hanya akan menjadi cermin yang sama hanya saja, yang terpantul di dalamnya adalah wajah-wajah yang lebih muda.

Pada akhirnya, TKA ini soal keberanian membaca arah. Negara tidak bisa cuma mengukur, lalu berharap segalanya membaik dengan sendirinya. Kalau persiapan TKA untuk SD dan SMP cuma jadi agenda administratif belaka, maka kegagalan bukan dicegah. Hanya dimajukan waktunya saja. Anak-anak kita berhak mendapatkan sistem pendidikan yang mau belajar, dan belajar lebih cepat dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar