MURIANETWORK.COM - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa seleksi masuk Sekolah Rakyat sepenuhnya berfokus pada kondisi ekonomi keluarga calon siswa, bukan pada kemampuan akademis. Pernyataan ini disampaikan dalam audiensi dengan pimpinan DPRD Brebes di Jakarta, Kamis (19/2), sebagai bagian dari upaya pemerintah memastikan program ini tepat sasaran bagi keluarga prasejahtera.
Seleksi Berbasis Data Kemiskinan, Bukan Prestasi Akademik
Dalam pertemuan tersebut, Agus Jabo secara tegas menggarisbawahi filosofi utama program Sekolah Rakyat. Kriteria penerimaan siswa tidak melihat nilai rapor atau ranking sekolah, melainkan pada status ekonomi keluarga yang tercatat dalam data pemerintah.
“Tidak ada seleksi akademis. Pokoknya ini orang miskin. Kalau mereka miskin layak masuk Sekolah Rakyat, kalau (mereka) sakit, Kemensos harus obati mereka, kalau sudah sembuh masukkan ke sekolah rakyat,” tegas Agus Jabo.
Ia menjelaskan bahwa proses penjangkauan sasaran mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya keluarga dari desil 1 dan 2 yang masuk kategori miskin dan miskin ekstrem. Kebijakan ini, menurutnya, merupakan implementasi arahan Presiden untuk memuliakan masyarakat prasejahtera sekaligus menjaga integritas proses rekrutmen.
Komitmen Anti-Nepotisme dan Verifikasi Lapangan
Untuk mencegah penyalahgunaan, Wamensos menekankan bahwa tidak ada ruang untuk praktik titipan atau nepotisme, sekalipun dari pejabat tinggi. Prinsip keterbukaan tetap dijaga dengan memungkinkan usulan dari daerah, asalkan disertai verifikasi fakta di lapangan.
“Pak Ketua tidak boleh titip, Pak Wakil Ketua enggak boleh titip, saya juga enggak boleh titip. Tetapi kalau di lingkungan njenengan ternyata banyak orang miskin, silahkan diusulkan. Nanti yang akan menentukan Kemensos. Begitu data masuk kita akan cek lapangan benar enggak ini, itu lho,” paparnya.
Jika Sekolah Rakyat dibangun di suatu daerah seperti Brebes, maka prioritas penerimaan siswa, guru, hingga kepala sekolah juga akan diberikan kepada putra-putri daerah tersebut. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memastikan manfaat program benar-benar mengakar dan berdampak langsung pada komunitas setempat.
Fasilitas Lengkap dan Pendampingan Pasca-Lulus
Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama jenjang SD hingga SMA dengan fasilitas yang komprehensif. Mulai dari ruang kelas, perpustakaan, lapangan olahraga, hingga pemenuhan gizi tiga kali sehari dan seragam lengkap diberikan secara cuma-cuma. Bahkan, setiap siswa juga mendapat fasilitas laptop untuk menunjang pembelajaran.
Yang tak kalah penting, program ini tidak berhenti saat siswa meraih ijazah. Kementerian Sosial telah menyiapkan skema pendampingan lanjutan bekerja sama dengan sejumlah instansi.
“Jadi, kalau misalkan sudah lulus SMA, kemudian mereka belum mau melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka (dapat langsung) bekerja supaya meng-graduasi orang tuanya. Kita hanya mengantarkan saja mereka lulus SMA harus sekolah atau kerja,” ujar Agus Jabo.
Kerja sama telah dijalin dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Tenaga Kerja, dan BP2MI untuk membuka jalan bagi lulusan, baik yang ingin melanjutkan studi maupun langsung terjun ke dunia kerja.
Dukungan dari Daerah dan Perkembangan Pembangunan
Merespons penjelasan tersebut, Wakil Ketua I DPRD Brebes Iqbal Tanjung menyambut baik rencana kehadiran Sekolah Rakyat di wilayahnya. Ia melihat program ini sebagai peluang besar untuk mengembangkan potensi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Harapan kami dengan adanya Sekolah Rakyat ini, anak-anak yang tidak mampu, dan punya potensi bisa dikembangkan lebih baik. Kita di DPRD konsultasi lebih lanjut terkait program Sekolah Rakyat supaya tidak terjadi miss komunikasi,” ungkap Iqbal Tanjung.
Hingga saat ini, program perintisan Sekolah Rakyat telah menjangkau 166 titik dengan melayani hampir 16.000 siswa. Didukung oleh ribuan guru dan tenaga kependidikan, program ini terus berkembang. Pembangunan gedung permanen sendiri tengah berlangsung di 104 lokasi dan ditargetkan dapat beroperasi penuh pada tahun 2026.
Artikel Terkait
KPK Dalami Peran Rumah Aman Ciputat dalam Kasus Suap Bea Cukai, Uang Miliaran Rupiah Diamankan
Pekerja Migran Nonprosedural Meninggal, Negara Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah
KPK Cabut Pencekalan Fuad Hasan Masyhur Terkait Kasus Kuota Haji
TVRI Genjot Infrastruktur Siaran untuk Jayawijaya, Tanggapi Arahan Presiden