Hari Pertama Puasa, Stasiun Manggarai Dibanjiri Penumpang yang Buru-buru Pulang

- Kamis, 19 Februari 2026 | 19:00 WIB
Hari Pertama Puasa, Stasiun Manggarai Dibanjiri Penumpang yang Buru-buru Pulang

Senin sore itu, suasana Stasiun Manggarai benar-benar berbeda. Hari pertama puasa Ramadan, dan kerumunan pekerja yang ingin cepat pulang membanjiri area stasiun. Mereka semua punya tujuan yang sama: sampai di rumah sebelum adzan maghrib berkumandang.

Kepadatan sudah terasa sejak lepas pukul lima. Dari atas, terlihat lautan manusia berdesakan di peron. Mereka saling menyusup, bergegas pindah antar peron melalui tangga manual maupun eskalator yang jelas-jelas sudah kelebihan muatan. Suasana panas dan hiruk-pikuk, khas terminal manusia di penghujung hari.

Menurut pantauan di lokasi, titik terpadat ada di peron 10 dan 11 untuk tujuan Bogor, serta peron 3 dan 4 yang melayani rute Bekasi dan Cikarang. Area tunggu penuh sesak, nyaris tak ada celah. Di tengah kerumunan itu, petugas keamanan berjaga, mencoba menjaga agar arus penumpang tetap terkendali dan tertib.

Di sela kerumunan, kami menemui Syamsul, seorang penumpang berusia 58 tahun.

"Saya mau pulang ke Cikarang dari kantor di Jakarta Selatan," ujarnya sambil menenteng tas.

Dia bercerita bahwa jam pulang kerjanya dimajukan selama bulan puasa ini. "Biasanya pulang jam 5, kalau di bulan puasa jam 4," katanya.

Namun begitu, menurut pengamatannya, kepadatan hari ini tidak jauh beda dengan hari-hari biasa. "Sama-sama aja, kayaknya nggak jauh beda," ucap Syamsul dengan nada biasa.

Pendapat berbeda datang dari Maulita, seorang penumpang lain yang berusia 18 tahun. Baginya, stasiun terasa lebih ramai dari biasanya.

"Sebenarnya hari-hari biasa juga KRL tuh pasti ramai," akunya.

Tapi dia punya analisis sederhana. "Tambah hari pertama puasa mungkin masih banyak yang libur juga ya, masih banyak yang nyari destinasi-destinasi makanan lain-lain, kayaknya makin ramai lagi jadinya."

"Mereka juga mungkin buru-buru entah mau bukber bersama teman-temannya juga atau sama keluarganya, jadi makin ramai juga keretanya," tambah Maulita, melengkapi curhatnya.

Jadi, ada dua pandangan yang bertolak belakang. Satu bilang biasa saja, satu lagi merasa lebih padat. Yang jelas, ritual pulang cepat di bulan puasa telah mengubah stasiun ini menjadi arena tersendiri. Sebuah pemandangan yang, mau diakui atau tidak, telah menjadi bagian dari ritme kota Jakarta.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar