Namun begitu, menurut pengamatannya, kepadatan hari ini tidak jauh beda dengan hari-hari biasa. "Sama-sama aja, kayaknya nggak jauh beda," ucap Syamsul dengan nada biasa.
Pendapat berbeda datang dari Maulita, seorang penumpang lain yang berusia 18 tahun. Baginya, stasiun terasa lebih ramai dari biasanya.
"Sebenarnya hari-hari biasa juga KRL tuh pasti ramai," akunya.
Tapi dia punya analisis sederhana. "Tambah hari pertama puasa mungkin masih banyak yang libur juga ya, masih banyak yang nyari destinasi-destinasi makanan lain-lain, kayaknya makin ramai lagi jadinya."
"Mereka juga mungkin buru-buru entah mau bukber bersama teman-temannya juga atau sama keluarganya, jadi makin ramai juga keretanya," tambah Maulita, melengkapi curhatnya.
Jadi, ada dua pandangan yang bertolak belakang. Satu bilang biasa saja, satu lagi merasa lebih padat. Yang jelas, ritual pulang cepat di bulan puasa telah mengubah stasiun ini menjadi arena tersendiri. Sebuah pemandangan yang, mau diakui atau tidak, telah menjadi bagian dari ritme kota Jakarta.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Tiga Warga Sipil, Rusak Rumah Sakit di Tyre
Inter Milan Hajar AS Roma 5-2, Posisi Puncak Serie A Makin Kokoh
Polisi Gerebek Sarang Narkoba di OKU Timur, 5 Orang Diamankan
Brimob dan Polres Jaktim Amankan Remaja Ugal-ugalan dan Tangani Pesta Miras di Condet