MURIANETWORK.COM - Warga di Jalan Haji Nawi, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, terus berjuang menghadapi kebisingan yang ditimbulkan dari aktivitas sebuah lapangan padel di lingkungan mereka. Keluhan yang telah berlangsung sejak Oktober tahun lalu ini dinilai sangat mengganggu ketenangan hidup, terutama bagi lansia dan anak-anak, meski berbagai upaya pengaduan telah dilakukan.
Dampak Kebisingan yang Mengganggu Keseharian
Lapangan olahraga tersebut berdiri sangat dekat dengan permukiman warga. Hanya sebuah tembok pembatas setinggi sekitar lima meter yang memisahkan dua rumah tinggal dengan fasilitas itu. Struktur bangunan lapangan sendiri lebih tinggi, dengan bagian dinding atasnya yang hanya berupa kanopi baja ringan berongga, sehingga tidak efektif menahan suara.
Akibatnya, hingar-bingar dari dalam lapangan mudah terdengar hingga ke rumah-rumah warga. Suara bola yang dipukul dan teriakan para pemain seringkali memecah keheningan dari pagi hingga larut malam.
Upaya Warga yang Berujung Sia-sia
Naufal (27), salah seorang warga yang terdampak, mengungkapkan rasa frustrasinya. Keluarganya telah berkali-kali melaporkan gangguan ini melalui aplikasi layanan warga, JAKI, namun tidak melihat adanya perubahan berarti. Pertemuan dengan pengelola lapangan pada akhir Januari pun dinilainya tidak membuahkan solusi konkret.
"Aku tuh tadinya November satu laporan, Desember satu laporan, Januari sama Februari itu seminggu tiga kali laporan aku lewat JAKI gitu. Ya sudah, jadi karena banyaknya laporan-laporan yang sudah kita lakuin, dan sudah sempat ketemu juga sama pihak pengelola tanggal 31 Januari, tapi hasil mediasinya tidak membuahkan hasil lagi gitu," tutur Naufal.
Ia menambahkan, meski sempat ada komitmen untuk membatasi waktu operasional hingga pukul 22.00, dalam praktiknya kerap terjadi pelanggaran. Suara bising masih sering terdengar melewati batas waktu yang disepakati.
"Setelahnya mereka komit sampai jam 10, cuma ada beberapa kali kita ketemu jam 10 tuh masih ketawa-ketawa, masih main," ungkapnya.
Gangguan Kesehatan dan Konsentrasi
Dampaknya terhadap kesehatan dan kenyamanan warga terasa sangat nyata. Di lingkungan tersebut, terdapat penghuni beragam usia mulai dari orang tua, bayi yang baru lahir, hingga seorang nenek berusia 90 tahun. Kebisingan yang terus-menerus dikeluhkan telah mengganggu ibadah, waktu istirahat, bahkan konsentrasi untuk beraktivitas sehari-hari.
"Iya, semuanya yang tinggal di sini ngeluh. Nggak fokus salat, nggak fokus siap-siap, mau mandi saja nggak fokus lah gitu. Mau siap-siap ke kantor nggak fokus, mau ngumpulin energi buat besoknya mau kerja juga nggak fokus. Sama stres, jadi gampang marah juga," imbuh dia.
Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini diduga memicu masalah kesehatan serius. Naufal menceritakan bahwa ibunya mengalami kenaikan tekanan darah hingga level yang berbahaya, suatu kondisi yang baru muncul belakangan ini.
"Terutama ibu saya langsung kelihatan tensinya 200, itu kan nyata ya. Maksudnya itu bukan feeling gitu, beneran bisa diukur tensinya dia 200," katanya.
Keluhan warga ini menyoroti pentingnya keselarasan antara pembangunan fasilitas komersial dengan hak warga atas lingkungan yang sehat dan tenang. Hingga saat ini, mereka masih menanti solusi yang efektif dan berkelanjutan dari pihak berwenang.
Artikel Terkait
Mantan Dirut Pertamina Patra Niaga Bela Diri di Sidang Korupsi Rp 285 T dengan Sorot Laba dan Dividen
Kejagung Geledah 16 Lokasi, Sita Mobil Mewah dalam Kasus Korupsi Ekspor Limbah Sawit Rp14 Triliun
Monas Tetap Buka Saat Ramadan dengan Penyesuaian Jam Operasional
Shayne Pattynama Akui Persaingan Ketat dengan Dony Tri Pamungkas di Bek Kiri Persija