MURIANETWORK.COM - Bulan Ramadhan kerap kali hanya dilihat sebagai periode penuh ibadah semata. Namun, bagi perekonomian Indonesia, bulan suci ini justru menyimpan potensi sebagai penggerak pertumbuhan yang signifikan. Dengan daya beli yang terjaga, inflasi yang terkendali, dan aktivitas konsumsi yang meningkat, momentum ini dapat menjadi akselerator alami bagi sektor-sektor kunci, mulai dari perdagangan hingga UMKM. Artikel ini menelaah bagaimana fondasi ekonomi yang kuat dan nilai-nilai Ramadhan dapat bersinergi menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
Fondasi Ekonomi yang Kokoh Menyambut Ramadhan
Memasuki Ramadhan tahun ini, kondisi makroekonomi Indonesia memberikan landasan yang cukup kuat. Data terbaru menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen, lebih tinggi dari capaian 2024, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp23.821,1 triliun. Bahkan di triwulan IV-2025, pertumbuhan mencapai 5,39 persen, sebuah sinyal bahwa momentum tetap terjaga.
Stabilitas ini menjadi modal berharga. Peningkatan konsumsi selama Ramadhan dan Idulfitri, yang biasanya memicu efek berganda pada perdagangan, transportasi, dan pariwisata, berpotensi berjalan optimal ketika fondasinya sudah solid.
Kunci Utama: Stabilitas Harga dan Daya Beli
Di balik angka pertumbuhan, faktor penentu lain adalah kemampuan menjaga daya beli masyarakat. Inflasi yang terkendali menjadi kunci di sini. Per Desember 2025, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,92 persen, masih dalam rentang target pemerintah dan Bank Indonesia.
Kondisi harga yang stabil ini memberikan ruang bagi rumah tangga untuk mengalokasikan lebih banyak dana tanpa terbebani lonjakan biaya hidup. Dalam konteks Ramadhan, di mana pola belanja kebutuhan pokok dan konsumsi lainnya meningkat, pengendalian inflasi adalah penopang vital yang mencegah peningkatan permintaan justru berbalik menjadi beban.
Sinyal Positif dari Pasar Tenaga Kerja
Aspek lain yang turut mendukung adalah membaiknya kondisi ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 tercatat 4,85 persen, turun dari periode sebelumnya. Penurunan angka pengangguran ini menunjukkan bahwa sektor-sektor produktif, seperti pertanian, industri pengolahan, serta akomodasi dan makan minum, kembali aktif menyerap tenaga kerja. Peningkatan penyerapan tenaga kerja ini secara langsung mendukung daya beli dan menguatkan siklus konsumsi domestik.
Produktivitas dalam Makna yang Lebih Luas
Ramadhan seringkali dihadapkan pada stereotip penurunan produktivitas. Padahal, nilai-nilai inti bulan suci ini justru dapat menjadi katalis bagi etos kerja yang lebih bermakna. Disiplin, pengendalian diri, kejujuran, dan integritas yang diasah selama Ramadhan merupakan fondasi produktivitas yang sesungguhnya.
Ketika nilai-nilai ini terinternalisasi dalam praktik kerja, efisiensi dan kualitas justru berpotensi meningkat. Produktivitas tidak lagi semata diukur dari jam kerja, tetapi dari output yang lebih bernilai dan beretika.
Ekonomi Solidaritas yang Menggerakkan Dasar
Dinamika unik Ramadhan lainnya adalah menguatnya ekonomi berbasis solidaritas. Tradisi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) mengalami peningkatan signifikan. Aliran dana sosial ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan memiliki fungsi ekonomi riil yang powerful.
Dana yang terkumpul dan didistribusikan kepada kelompok mustahik secara langsung meningkatkan daya beli di lapisan masyarakat terbawah. Peningkatan konsumsi ini pada gilirannya menggerakkan roda usaha mikro dan kecil di tingkat komunitas, menciptakan siklus ekonomi yang inklusif dan berbasis gotong royong.
Investasi Jangka Panjang: Pembangunan Manusia
Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan pada akhirnya bertumpu pada kualitas sumber daya manusianya. Indikator kemajuan di bidang ini terlihat dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang pada 2025 mencapai 75,90. Angka ini didorong oleh peningkatan harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, dan umur harapan hidup.
Peningkatan pengeluaran riil per kapita menjadi Rp12,8 juta per tahun juga menjadi penanda bahwa pertumbuhan ekonomi mulai terasa dampaknya pada tingkat kesejahteraan individual. Investasi dalam pendidikan, kesehatan, dan keterampilan adalah fondasi untuk produktivitas nasional jangka panjang yang lebih kokoh.
Menjaga Momentum Menuju Visi Jangka Panjang
Momentum Ramadhan tahun ini bertepatan dengan fase konsolidasi menuju target pembangunan jangka panjang. Tantangan tentu saja tetap ada, mulai dari ketidakpastian global hingga disparitas antardaerah. Namun, sejarah menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia yang didukung oleh modal sosial yang kuat.
Konsistensi kebijakan yang pro-pertumbuhan dan pro-kesejahteraan, serta kolaborasi seluruh elemen bangsa, menjadi kunci. Dengan memanfaatkan potensi musiman seperti Ramadhan secara optimal dan menjaga stabilitas fundamental, akselerasi ekonomi bukanlah hal yang mustahil.
Pada refleksi akhir, Ramadhan mengajarkan tentang keseimbangan. Antara spiritualitas dan produktivitas, antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial. Bulan suci ini mengingatkan bahwa kemajuan sejati lahir ketika ambisi pembangunan berjalan beriringan dengan kepedulian dan kebijaksanaan kolektif.
Dr. H. Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua DPR RI, dalam kapasitasnya mengamati dinamika kebijakan dan ekonomi, menyatakan:
"Semua indikator tersebut sejalan dengan tujuan utama bulan suci Ramadhan. Ramadhan seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal angka statistik pertumbuhan di atas kertas, tetapi juga kualitas kehidupan masyarakat."
Beliau menambahkan,
"Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa pemerataan tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Karena itu, strategi pembangunan nasional harus terus diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perlindungan sosial yang adaptif."
Artikel Terkait
Kompolnas Awasi Sidang Etik Mantan Kapolres Bima Terkait Kasus Narkoba
Polres Metro Tangerang Kota Lakukan Rotasi Sejumlah Pejabat Utama
Pilot Selamat Usai Terjun Parasut, Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Perbukitan Nunukan
KPK Tetapkan Tiga Perusahaan Tambang sebagai Tersangka Baru Kasus Rita Widyasari