Indonesia Undang Dunia Hadiri KTT Kelautan 2026 di Bali

- Rabu, 18 Februari 2026 | 19:15 WIB
Indonesia Undang Dunia Hadiri KTT Kelautan 2026 di Bali

Jakarta kembali menjadi tuan rumah bagi sebuah ajakan penting. Lewat sebuah resepsi diplomatik yang digelar belum lama ini, pemerintah Indonesia secara resmi mengundang negara-negara sahabat dan berbagai organisasi internasional untuk hadir dalam sebuah pertemuan puncak bertajuk Ocean Impact Summit (OIS) 2026. Acara besar itu rencananya bakal digelar di Nusa Dua, Bali, pada 8-9 Juni mendatang.

Undangan ini disampaikan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono. Acara resepsi itu sendiri merupakan hasil kolaborasi antara KKP, Kementerian Luar Negeri, Sekretariat Negara, serta Danantara.

"Kami berharap para kepala negara, menteri, pimpinan organisasi internasional, sampai pelaku usaha dan akademisi, bisa berkumpul untuk merumuskan capaian yang konkret dan terukur," ujar Trenggono, Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan, "Untuk itu, kami meminta dukungan para duta besar dan perwakilan organisasi internasional untuk menyampaikan undangan ini langsung ke negara masing-masing."

Ajakan ini sebenarnya bukan hal yang baru. Ia merupakan tindak lanjut dari pengumuman resmi yang sebelumnya sudah disampaikan Presiden Prabowo Subianto di forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, akhir Januari lalu. Sekarang, undangan itu disampaikan secara lebih formal di hadapan para diplomat.

Tema besar yang diusung adalah 'Unlocking the Potential of the Blue Economy'. Nah, dalam puncak KTT nanti, pembahasan akan difokuskan pada empat pilar kunci. Pilar-pilar itu antara laut sebagai sumber pangan, sebagai sistem energi modern, sebagai benteng pertahanan iklim, dan sebagai ruang untuk tata kelola serta inovasi terbaru.

Harapannya jelas: OIS 2026 bisa jadi katalis untuk mempercepat kegiatan ekonomi berbasis laut. Mulai dari modernisasi perikanan, pengembangan energi terbarukan, perluasan kawasan konservasi, sampai digitalisasi tata kelola dengan dukungan data dan AI.

"Kami juga mendorong para dubes untuk melibatkan pemangku kepentingan kunci di negara mereka, terutama investor dan pelaku swasta," kata Trenggono lagi. Menurutnya, keterlibatan mereka sangat menentukan untuk membuka peluang kemitraan dan investasi yang nyata.

Lalu, apa bedanya OIS dengan forum kelautan lain yang sudah ada? Rupanya, summit ini ingin lebih fokus pada aksi. Pendekatannya action-oriented, dengan sasaran utama mengkatalisasi investasi dan membangun inisiatif kolaboratif yang konkret. Tata kelola laut yang adaptif terhadap perubahan iklim dan transisi energi juga jadi perhatian serius.

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno yang hadir memberikan pengantar mencoba menjelaskan perbedaan ini.

"KTT OIS berbeda karena menghadirkan pendanaan yang benar-benar berdampak untuk laut," ujar Havas.

"Contohnya, bagaimana membuat kegiatan pelayaran jadi lebih hijau, yang dilihat bukan sebagai biaya tambahan melainkan peluang investasi. Atau bagaimana ekosistem seperti terumbu karang dan lamun bisa dimanfaatkan untuk pendanaan berkelanjutan lewat nilai ekonomi karbonnya," sambungnya.

Dukungan pun datang dari salah satu negara sahabat. Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem Obaid Salem Aldhaheri, menyatakan dukungan penuhnya terhadap penyelenggaraan OIS pertama di Indonesia ini.

Menurutnya, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memegang peran yang sangat penting dalam mendorong tata kelola laut yang berkelanjutan untuk kepentingan global.

"Tentu saja saya akan mendorong UEA untuk bergabung di KTT ini. Saya melihat ini platform bagus yang akan mempengaruhi semua pihak yang terkait dengan lautan," ungkap Abdulla.

"Indonesia adalah negara yang tepat untuk memperkenalkan isu kelautan ke dunia, dengan cara yang sistematis," tambahnya.

Resepsi diplomatik yang jadi ajang peluncuran undangan ini sendiri dihadiri oleh 73 kedutaan besar negara sahabat dan 11 organisasi internasional. Tercatat ada 28 duta besar, puluhan perwakilan kedutaan setingkat wakil dubes, serta perwakilan dari kementerian dan lembaga terkait di dalam negeri. Suasana pun terasa cukup padat dan penuh dengan obrolan diplomatik yang serius.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar