MURIANETWORK.COM - Wacana mengenai sosok pemimpin yang akan mengawal Nahdlatul Ulama (NU) ke depan semakin mengemuka seiring mendekatnya Muktamar ke-35. Dalam menghadapi tantangan global yang kompleks, organisasi Islam terbesar di dunia ini memerlukan figur yang tidak hanya memiliki kedalaman kultural dan keilmuan, tetapi juga kapasitas manajerial yang teruji. Drs. H. Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, disebut-sebut sebagai salah satu kandidat yang memenuhi kriteria kepemimpinan transformatif tersebut.
Profil dan Kualifikasi Unik Gus Ipul
Figur yang akrab disapa Gus Ipul ini membawa kombinasi kualifikasi yang langka. Di satu sisi, ia memiliki akar yang kuat di dunia pesantren sebagai keponakan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan alumni Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang. Di sisi lain, pengalamannya di ranah birokrasi dan pemerintahan sebagai mantan Menteri, Wakil Gubernur Jawa Timur, dan Wali Kota Pasuruan memberikannya bekal tata kelola organisasi yang solid. Ditambah perannya sebagai Sekretaris Jenderal PBNU dan mantan Ketua Umum GP Ansor, posisinya menjembatani berbagai spektrum di tubuh NU.
Sepuluh Alasan Mengapa Gus Ipul Dinilai Layak
Berbagai pihak menilai sejumlah faktor membuat Gus Ipul layak dipertimbangkan untuk memimpin NU. Berikut adalah poin-poin yang kerap disebut dalam diskursus tersebut.
1. Kapasitas Manajerial dan Birokrasi
NU saat ini mengelola aset dan lembaga yang sangat masif, mulai dari pendidikan hingga kesehatan. Pengalaman panjang Gus Ipul dalam mengelola pemerintahan daerah dan nasional memberikannya kemampuan untuk menggerakkan organisasi besar secara efisien dan akuntabel, sebuah keahlian yang krusial untuk tata kelola NU modern.
2. Penjembat Antargenerasi
Salah satu kekuatan Gus Ipul adalah kemampuannya berkomunikasi dengan semua kalangan. Ia mampu menyapa para kiai sepuh dengan penuh hormat, sekaligus merangkul generasi muda Nahdliyin. Latar belakangnya di GP Ansor membuatnya paham dinamika pemuda, sementara sikap tawadhu'-nya menjaga kesinambungan dengan tradisi.
Kekuatan ini juga dianggap vital untuk menciptakan harmoni antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah dalam proses pengambilan keputusan.
3. Jaringan yang Luas dan Multisektoral
Kepemimpinan NU membutuhkan akses dan koneksi yang kuat di tingkat nasional maupun global. Gus Ipul dikenal memiliki jaringan yang terbangun dengan baik di kalangan pemerintah, pengusaha, dan berbagai elemen masyarakat sipil. Jaringan ini penting untuk memperkuat peran NU dalam percaturan kebijakan publik dan diplomasi.
4. Visi Kemandirian Ekonomi
Kemandirian ekonomi organisasi menjadi tantangan besar. Gus Ipul sering kali menekankan pentingnya penguatan ekonomi warga Nahdliyin. Dengan pengalamannya, ia diharapkan mampu mengonsolidasikan potensi ekonomi NU yang tersebar menjadi kekuatan korporasi sosial yang lebih solid dan berdampak.
5. Komitmen pada Moderasi Beragama
Di tengah iklim sosial yang rentan polarisasi, konsistensi Gus Ipul dalam mengusung moderasi beragama (wasathiyah) menjadi nilai plus. Ia dipandang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam Aswaja dan Islam Nusantara ke dalam langkah nyata yang kontekstual, tanpa kehilangan khittahnya.
6. Pengalaman Internal yang Panjang
Gus Ipul bukanlah figur pendatang baru. Dedikasinya di NU dimulai dari tingkat bawah hingga menduduki posisi strategis sebagai Sekjen PBNU. Pemahaman mendalamnya terhadap AD/ART dan kultur organisasi memungkinkan dilakukannya pembaruan internal dengan lebih lancar dan minim gejolak.
7. Kedekatan dengan Basis
Meski telah lama berkecimpung di lingkaran elit, Gus Ipul tetap dikenal dengan sikapnya yang rendah hati dan mudah diakses. Gaya komunikasi yang egaliter ini dibutuhkan untuk memastikan suara dari tingkat cabang hingga ranting tetap sampai ke pusat dan mendapatkan perhatian.
8. Kemampuan Mitigasi Konflik
Sebagai organisasi besar, NU tidak lepas dari dinamika dan perbedaan pendapat. Gus Ipul dikenal sebagai komunikator yang ulung dan mampu meredakan ketegangan. Kemampuan lobi dan persuasinya dianggap penting untuk menjaga soliditas internal dari berbagai kepentingan.
9. Kesadaran akan Transformasi Digital
Menyadari tuntutan zaman, Gus Ipul aktif mendorong digitalisasi di tubuh NU, mulai dari data keanggotaan hingga metode dakwah. Visi ini diharapkan dapat membawa NU tetap relevan dan adaptif di era disruptif seperti sekarang.
10. Akar Kultural dan Sanad Keilmuan yang Kuat
Dalam tradisi NU, sanad keilmuan dan kultural memiliki tempat yang sangat penting. Latar belakang Gus Ipul yang lahir dan besar di lingkungan pesantren, dengan sanad keilmuan yang jelas, memberinya fondasi pemahaman yang mendalam terhadap tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).
Muktamar sebagai Momentum Lompatan
Muktamar ke-35 NU bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan, melainkan momentum strategis untuk menentukan arah organisasi di abad keduanya. Tantangan ke depan mulai dari geopolitik, ekonomi, hingga transformasi digital memerlukan kepemimpinan yang komprehensif.
Rekam jejak Gus Ipul yang mengintegrasikan tradisi pesantren, pengalaman organisasi, dan kompetensi manajerial modern menjadikannya figur yang banyak dibicarakan. Dipercaya, kombinasi ini dapat membawa NU menuju kemandirian yang lebih besar, dengan tetap berpegang pada khittah sebagai organisasi yang moderat dan berkontribusi positif bagi bangsa.
Menyerahkan estafet kepemimpinan kepada sosok yang dianggap matang secara pengabdian, jaringan, dan pemahaman organisasi, bisa menjadi langkah untuk mengawal NU melewati kompleksitas zaman. Wallahu'alam bishawab.
KH Imam Jazuli Lc. MA.
Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Artikel Terkait
Perwakilan Tiga Grup Korporasi Dituntut 15 Tahun Penjara atas Kasus Suap Hakim
Presiden Prabowo Perintahkan Bantuan Daging Segar untuk 6.000 KK Korban Banjir di Aceh Barat Sambut Meugang
BPS Lakukan Verifikasi Lapangan untuk 106 Ribu Penerima BPJS yang Direaktivasi
Kemendiktisaintek Tegaskan SMA Unggul Garuda Bukan Lanjutan RSBI