Warga pun tampak antusias. Dari orang tua hingga anak-anak, mereka berkumpul, bersila di atas tikar. Aroma gulai dan kuah kaldu membaur dengan canda tawa. Di balik kegiatan sosial ini, terselip pelajaran nyata bagi para calon pemimpin Polri itu tentang arti kedekatan dengan masyarakat.
Menurut sejumlah saksi, kegiatan seperti ini jarang terjadi. Kehadiran para taruna justru memberi warna berbeda. Mereka tak cuma datang dan pergi, tapi benar-benar turun tangan, mengobrol, dan mendengarkan keluh kesah warga.
Memang, bencana mungkin telah mengubah banyak hal. Namun begitu, tradisi dan rasa kepedulian ternyata bisa menjadi perekat yang kuat. Meugang ala mahasiswa STIK-PTIK Angkatan 83 Widya Parama Satwika ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar makan bersama. Ia adalah tentang membagi harapan dan menguatkan silaturahmi di tanah yang sedang berduka.
Artikel Terkait
Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Ditangkap Setelah 7 Tahun Buron
KA Siliwangi Tertahan di Cianjur Akibat Banjir Rendam Rel
Yayasan dan BGN Labuhanbatu Gelar Fun Match untuk Pererat Sinergi Dapur MBG
Persib Kukuhkan Puncak Klasemen Usai Kalahkan Semen Padang 2-0