"Bisa melalui DMI atau melalui ormas-ormas: NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, Al Washliyah dan lain-lain, Al Wahdah, untuk menyerukan kepada seluruh imam-imam di dalam Ramadan yang saat bagus mustajab ini memohon kepada Allah untuk kemerdekaan, merdeka, kemerdekaan bagi warga Palestina dan menolong kepada teman-teman yang ada di Gaza," jelasnya.
Merawat Persatuan di Tengah Perbedaan Penetapan
Di sisi lain, Anwar Iskandar juga mengingatkan agar perbedaan dalam menentukan awal Ramadan tidak merusak persatuan. Dengan nada yang menenangkan, ia menggarisbawahi bahwa perbedaan tersebut hanya bersifat teknis dan ijtihadi, sementara hal-hal yang prinsipil (qath'i) tetap sama.
"Bahkan di Indonesia ini ada lebih dari 80 ormas-ormas Islam di Indonesia. Yang perbedaan-perbedaan organisasi ini memungkinkan adanya amaliah ubudiyah yang berbeda-beda. Tetapi perbedaan itu hanya menyangkut masalah-masalah yang sifatnya itu ijtihadi, yang sifatnya itu teknis. Secara qath'i tidak beda, secara qath'i semua sama," ungkapnya.
Pesan tentang menjaga ukhuwah ini ditekankannya kembali. Dalam pandangannya, kemampuan untuk menghormati perbedaan justru merupakan kekuatan bangsa Indonesia yang majemuk.
"Tetapi yang paling penting itu, keutuhan sebagai umat Islam itu yang harus senantiasa kita jaga. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati. Bahkan kalau perlu kita sebagai bangsa yang demokratis ini perlu membiasakan diri untuk berbeda. Untuk berbeda. Asal jangan soal prinsipil saja. Asal jangan soal akidah saja. Asal jangan soal qath'i saja," katanya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
Banjir Rendam 552 Rumah di Donggala, Dua Kecamatan Terdampak
Penyelundupan 202 Reptil Hidup ke Dubai Digagalkan di Soekarno-Hatta
AS dan Iran Saling Klaim Soal Nasib Jet Tempur F-15 yang Jatuh
Pegawai Tangerang dan Tangsel Mulai WFH Setiap Jumat Pekan Depan