BMKG Ingatkan Nelayan Kepri Waspada Gelombang Tinggi Saat Gerhana Matahari Cincin

- Selasa, 17 Februari 2026 | 16:50 WIB
BMKG Ingatkan Nelayan Kepri Waspada Gelombang Tinggi Saat Gerhana Matahari Cincin

Hari ini, Senin 17 Februari 2026, langit akan dihiasi oleh fenomena Gerhana Matahari Cincin. Sayangnya, bagi kita di Indonesia, momen langka ini cuma bisa dibayangkan. Jalur gerhananya nggak melintas di sini.

Menurut data dari BMKG, rangkaian gerhana ini bakal berlangsung cukup lama. Awalnya, fase sebagian mulai sekitar pukul 16.56 WIB. Nah, puncak utamanya, saat matahari bersembunyi di balik bulan dan menyisakan cincin cahaya, terjadi pukul 19.11 WIB. Semuanya selesai sekitar pukul 21.27 WIB. Tapi sekali lagi, ini cuma hitungan waktu universal. Untuk menyaksikan langsung, Anda harus berada di Antarktika, atau beberapa titik di ujung selatan Afrika dan Amerika Selatan.

Waspada Gelombang, Meski Gerhana Tak Terlihat

Meski gerhana tak bisa dilihat dari sini, BMKG punya peringatan penting. Khususnya buat masyarakat pesisir dan pelaut di Kepulauan Riau.

Ramlan Djambak, Kepala Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam, bilang kalau angin Muson Barat masih cukup kencang. Ini bikin gelombang laut, terutama di perairan Anambas dan Natuna, tetap tinggi.

"Gelombang di sebagian wilayah Kepri, terutama Anambas dan Natuna, masih cukup tinggi karena angin Muson Barat masih aktif atau Angin Utara kalau di Kepri menyebutnya,"

Ucap Ramlan, seperti dilansir Antara akhir pekan lalu.

Dia menegaskan, gerhana itu sendiri sebenarnya nggak langsung mempengaruhi cuaca. Fenomena ini kan terjadi secara periodik, alamiah. Namun begitu, kondisi angin yang sudah tinggi itu bisa bertahan hingga tanggal 17. Makanya, imbauannya jelas: nelayan dan operator kapal harus ekstra hati-hati. Perhatikan dulu informasi cuaca dan gelombang sebelum memutuskan untuk melaut. Keselamatan tetap yang utama.

Jadi, sementara sebagian dunia mendongak ke langit, kita di sini lebih baik fokus mengamati lautan. Alam selalu punya caranya sendiri untuk mengingatkan kita.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar