MURIANETWORK.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggelar latihan militer di kawasan strategis Selat Hormuz. Latihan ini digelar menjelang dimulainya kembali perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa, yang turut disoroti karena pengerahan kekuatan angkatan laut AS di wilayah yang sama.
Latihan yang dipimpin langsung oleh Panglima IRGC Jenderal Mohammad Pakpour ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan kemampuan reaksi cepat pasukan. Media pemerintah Iran melaporkan, latihan ini merupakan antisipasi terhadap berbagai potensi ancaman keamanan di selat yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global tersebut.
Latar Belakang Ketegangan di Selat Vital
Selat Hormuz dikenal sebagai titik lalu lintas maritim yang sangat krusial, di mana sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan perairan sempit ini kerap menjadi ajang ketegangan. Politisi garis keras Iran berulang kali menyuarakan kemungkinan untuk menutup selat tersebut, sebuah langkah yang akan berdampak besar pada stabilitas energi global.
Latihan militer kali ini mendapatkan perhatian khusus karena waktunya yang berdekatan dengan agenda diplomasi. Hanya selang sehari setelah latihan dimulai, perwakilan Teheran dan Washington dijadwalkan duduk kembali di meja perundingan di Jenewa, dengan Oman bertindak sebagai mediator.
Pesan Kekuatan di Tengah Jalur Diplomasi
Meski latihan berlangsung di tengah persiapan dialog, pihak Iran menegaskan bahwa kegiatan ini murni untuk kepentingan pertahanan. Televisi pemerintah menyiarkan pernyataan resmi yang menjelaskan tujuan latihan.
"Latihan ini bertujuan mempersiapkan Garda menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di selat tersebut," jelas siaran televisi tersebut, merujuk pada pengerahan kekuatan angkatan laut AS yang masif di daerah itu.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi IRGC, yang tidak hanya berfungsi sebagai kekuatan militer tetapi juga sebagai penjaga ideologi Revolusi Islam. Keberadaan mereka di lapangan, lengkap dengan persenjataan, kerap diinterpretasikan sebagai pesan tegas tentang kesiapan Iran di segala front, baik pertahanan maupun perundingan.
Durasi latihan yang tidak ditentukan secara pasti menambah nuansa ketidakpastian, meski pengamat menduga kegiatan ini akan berlangsung singkat untuk tidak mengganggu jalur pelayaran internasional secara signifikan. Sementara dunia menunggu hasil pertemuan di Jenewa, geliat kapal-kapal perang di perairan Hormuz menjadi pengingat nyata betapa rumit dan multitapisnya dinamika hubungan antara kedua negara ini.
Artikel Terkait
Janice Tjen Kalahkan Fernandez, Lolos ke 16 Besar Dubai Championship
Jemaah Naqsyabandiyah di Padang Mulai Puasa Lebih Awal Berdasarkan Hisab-Rukyat
Kapolri Buka Akses Faskes Polri untuk Seluruh Buruh Peserta BPJS Kesehatan
Dugderan Semarang Usung Toleransi dan Libatkan Generasi Muda Sambut Ramadan