Banjir Rendam 34 Desa di Grobogan, Lebih dari 5.200 KK Terdampak

- Senin, 16 Februari 2026 | 19:05 WIB
Banjir Rendam 34 Desa di Grobogan, Lebih dari 5.200 KK Terdampak

Hujan deras yang mengguyur sejak Minggu malam hingga Senin dini hari ternyata membawa konsekuensi serius bagi Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tak kurang dari 34 desa di sembilan kecamatan terendam banjir. Data sementara menyebutkan, bencana ini berdampak pada lebih dari 5.200 kepala keluarga. Bahkan, satu unit rumah dilaporkan rusak parah.

Menurut Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, pemicu utamanya adalah kombinasi hujan lebat dan kiriman air dari hulu.

"Peristiwa ini dipicu hujan dengan intensitas tinggi sejak Minggu (15/2) pukul 21.00 WIB hingga Senin (16/2) pukul 05.00 WIB, serta kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, dan Sungai Tuntang yang menyebabkan sungai meluap," jelasnya pada Senin (16/2/2026).

Data yang dihimpun hingga Senin dini hari itu juga mengungkap faktor lain: beberapa tanggul jebol dan rusak. Meski begitu, air di sejumlah lokasi sudah mulai surut.

Di lapangan, BPBD Grobogan mendapati situasi yang cukup beragam. Di Kecamatan Kedungjati, misalnya, luapan Sungai Tuntang merendam tujuh desa dengan ketinggian air 20 hingga 40 sentimeter.

"Rinciannya, Desa Klitikan (123 KK), Desa Kedungjati (98 KK), Desa Wates (1.000 KK), Desa Jumo (310 KK), Desa Deras (450 KK), Desa Kalimaro (321 KK), dan Desa Padas (60 KK). Saat ini genangan di wilayah ini telah surut," papar Muhari.

Sementara itu, kondisi di Kecamatan Tegowanu tampak lebih parah. Banjir menyapu Desa Tajemsari, Sukorejo, dan Kebonagung yang terakhir ini bahkan sawah seluas 102 hektare ikut terendam. Ketinggian airnya bervariasi, dari 20 cm sampai satu meter.

Kerusakan infrastruktur turut memperburuk keadaan.

"Tanggul Sungai Cabean di Desa Tajemsari dilaporkan jebol, serta tanggul Sungai Jratun di Dusun Mbaru, Desa Kebonagung, juga mengalami kerusakan. Kondisi saat ini berangsur surut," tambahnya.

Upaya pencegahan pun langsung digeber. Di Kecamatan Gubug, misalnya, meski banjir di Desa Penadaran sudah surut, warga dan relawan tak berhenti. Mereka kerja bakti meninggikan tanggul Sungai Tuntang untuk mengantisipasi luapan susulan.

Namun begitu, di beberapa titik, genangan masih membandel. Wilayah Purwodadi jadi salah satu yang paling terdampak. Kelurahan Purwodadi dan Kalongan masih terendam, dengan Perumahan Permata Hijau di Kalongan menjadi sorotan karena ketinggian airnya sempat mencapai satu meter, mengganggu 1.180 KK. Desa Karanganyar dan Ngraji juga belum sepenuhnya bebas dari genangan.

Adapun di Kecamatan Karangrayung, ceritanya agak mirip. Jebolnya tanggul Sungai Jajar Baru di dua dusun di Desa Mojoagung masing-masing sepanjang sekitar 15 meter menjadi penyebab utama air masuk ke permukiman. Saat ini, air memang sudah mulai mengalir pergi, tapi jejaknya masih tersisa di beberapa ruas jalan desa yang becek dan berlumpur.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar