Sebagai penunjang skema distribusi tersebut, pemerintah akan menyiapkan tambahan 10 hingga 12 kapal penyeberangan. Penambahan armada ini, berdasarkan evaluasi mudik tahun sebelumnya, dinilai krusial untuk memperlancar arus dari pelabuhan-pelabuhan alternatif seperti BBJ dan Ciwandan.
“Kami akan menyediakan minimal 10 hingga 12 kapal, agar aliran kendaraan berjalan lancar dan tidak terjadi antrean panjang,” ujar Dudy.
Koordinasi yang ketat lintas instansi dan wilayah juga menjadi fokus. Gubernur Banten Andra Soni menyatakan bahwa rapat koordinasi ini merupakan langkah awal konsolidasi untuk memastikan kelancaran operasional.
“Beberapa hal telah disampaikan tadi dan semua akan terus kita koordinasikan supaya penyelenggaraan Angkutan Mudik Tahun 2026 bisa berjalan dengan lancar,” ungkap Andra Soni.
Proyeksi Arus Mudik dan Persiapan Jangka Panjang
Meski diprediksi mengalami penurunan tipis sekitar 1,75 persen dibandingkan Lebaran 2025, angka pergerakan masyarakat tetap sangat besar, mencapai 143,9 juta orang. Survei menunjukkan lebih dari separuh responden (50,60%) berencana bepergian keluar kota, dengan mayoritas (66,2%) bertujuan untuk mudik dan merayakan Idul Fitri di kampung halaman.
Menyikapi hal ini, Kementerian Perhubungan telah menyusun kalender operasional yang lebih terstruktur. Posko Angkutan Lebaran 2026 direncanakan beroperasi selama 18 hari, mulai dari 13 Maret (H-8) hingga 30 Maret (H 9). Target akhir dari seluruh persiapan ini adalah menekan antrean panjang dan kemacetan di akses menuju pelabuhan, sehingga perjalanan mudik masyarakat bisa lebih tertib dan aman.
Artikel Terkait
Inflasi Maret 2026 Terkendali di Sasaran, BI Optimis Tren Berlanjut
Jumat Agung 2026 Diperingati 3 April, Berikut Link Twibbon untuk Ibadah Digital
Jenazah Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Direncanakan Dipulangkan Akhir Pekan Ini
Wakil Ketua Komisi IX DPR Dukung WFH, Sarankan Rabu sebagai Hari Ideal