Perjalanan mereka sempat terancam saat anjing penjaga Permesta menggonggong. Pasukan pun mengubah arah, mendaki ke bukit tertinggi di sekitarnya. Di puncak, mereka justru menemukan jalan setapak tersembunyi yang mengarah langsung ke pos musuh. Dari jarak hanya 25 meter, terlihat sejumlah personel Permesta sedang berdiang di sekitar api unggun.
“Setelah sampai di puncak bukit, tim RPKAD menemukan jalan setapak yang dipenuhi semak belukar yang ternyata mengarah ke pos musuh,” ungkap salah satu narasumber yang mendalami peristiwa tersebut.
Penyerangan Tanpa Suara dan Kemenangan
Menyadari bahaya pertempuran terbuka di malam hari, komandan memutuskan untuk melakukan penyergapan mendadak. Pasukan dibagi menjadi beberapa tim penembak dengan sasaran spesifik. Begitu serangan dimulai, pertempuran berubah menjadi perkelahian jarak dekat yang intens menggunakan sangkur bayonet, berlangsung dalam kesunyian malam tanpa tembakan.
“Setelah tembakan penyergapan dilakukan, terjadi perkelahian satu lawan satu dengan sangkur, tanpa ada letusan,” jelasnya, menggambarkan situasi mencekam itu.
Pada pukul empat pagi, posisi utama di Gunung Potong akhirnya berhasil diamankan. Pasukan Permesta yang tersisa melarikan diri, bahkan meninggalkan sejumlah senjata berat yang kemudian dimanfaatkan pasukan pemerintah. Setelah menyerahkan lokasi kepada KKO, pasukan RPKAD melanjutkan pergerakan maju dan kembali terlibat baku tembak sengit selama dua jam.
Pertahanan terakhir Permesta akhirnya jatuh sepenuhnya ke tangan RPKAD pada pagi hari tanggal 3 September 1958, tepat pukul enam. Kemenangan di Gunung Potong ini menjadi pukulan telak, meskipun sisa-sisa Permesta masih melanjutkan perlawanan gerilya yang kemudian ditangani oleh operasi lanjutan dari Batalyon 2/RPKAD.
Artikel Terkait
DPR Optimistis Kapal Pertamina di Selat Hormuz Segera Dilepaskan Iran
Politisi PDIP Ragukan Efektivitas WFH ASN Setiap Jumat
Gubernur DKI Tegaskan WFH Jumat Tak Berlaku untuk Pejabat dan Layanan Publik
ASN Pemda Dapat Opsi WFH Setiap Jumat Mulai April 2026