Ilustrasi. Foto: Freepik
Yang menarik, cara orang mencari informasi keuangan juga berubah. Penggunaan generative AI macam ChatGPT atau Google Gemini melonjak dari 13% menjadi 30%. Sementara itu, kepercayaan pada bank dan penasihat keuangan independen justru menurun.
Albertus punya pandangan soal tren AI ini.
Katanya. Intinya, AI membantu, tapi belum bisa gantikan peran ahli.
Sayangnya, data survei juga menunjukkan masih banyak yang abai. Sebanyak 24% responden mengaku tidak punya rencana pensiun sama sekali. Lalu, 34% lainnya baru menyusun rencana itu dalam dua tahun terakhir sebelum berhenti kerja. Hasilnya? Cuma 38% yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka sendiri.
Tekanan terasa lebih berat bagi generasi sandwich mereka yang terjepit harus menafkahi orang tua sekaligus anak. Sebanyak 40% dari kelompok ini terpaksa menurunkan ekspektasi gaya hidup. Bahkan, 23% lainnya memutuskan untuk menunda pensiun karena tanggung jawab keluarga yang begitu besar.
Dari sisi kesehatan, ada temuan yang berbanding terbalik. Sebagian besar (58%) responden yang optimistis menuju pensiun menyebut kondisi fisik mereka lebih baik dari perkiraan. Kesehatan mental juga lebih baik bagi 52% di antaranya.
Tapi, bagi 22% responden yang justru berencana pensiun lebih awal, alasan kesehatan yang menurun jadi pemicunya.
Albertus menekankan satu hal di akhir.
Pesan itu sederhana, tapi implementasinya ternyata masih jadi tantangan besar bagi banyak orang di negeri ini.
Artikel Terkait
Presiden Korea Selatan Sampaikan Belasungkawa Atas Gugurnya Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Denda Rp137 Miliar atas Kasus Gratifikasi
KPK Beri Asistensi Dua Direktur WNA Garuda Isi LHKPN
Konfrontasi Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Mapolda Metro Jaya Berujung Ricuh, Tiga Orang Diamankan