Beberapa hari kemudian, lebih dari 150 pendukung Bajrang Dal berdemo di luar gym yang dikelola Deepak. Pujian dan ancaman berdatangan bersamaan. Di satu sisi, dia dipuji sebagai "ikon India sekuler" dan "contoh pluralisme". Di sisi lain, dia dicap pengkhianat agama, bahkan dapat ancaman bunuh.
Vakeel Ahmed, sang pemilik toko, masih merinding membayangkan apa yang bisa terjadi tanpa kehadiran Deepak. "Kami takut. Mereka bisa melakukan apa saja," katanya.
Ponsel Deepak kini tak berhenti berdering. Dari jurnalis, politisi, hingga warga biasa yang ingin menyatakan dukungan. Pengikut Instagramnya melonjak. Sebuah video pendek yang dia unggah, di mana dia berkata, "Saya bukan seorang Hindu, saya bukan seorang Muslim... Pertama dan terpenting, saya adalah seorang manusia," disukai lebih dari lima juta kali.
Namun, ketenaran punya harga mahal. Keluarganya hidup dalam ketakutan. Gymnya yang dulu ramai dikunjungi 150-an orang per hari, kini sepi. "Mungkin cuma 15 yang masih datang. Banyak yang takut," ucap Deepak. Tekanan mental dan ancaman keuangan nyata menghantui.
Anggota parlemen oposisi Rahul Gandhi memujinya di media sosial, menyebut Deepak "pahlawan India" yang menyebarkan "cinta di pasar kebencian". Tapi pujian dari elit politik tak serta-merta mengamankan hidupnya. Ancaman tetap mengalir deras, salah satunya dia unggah sendiri: "Bajrang Dal seharusnya tidak membiarkanmu lolos. Aku akan memberimu pelajaran."
Menariknya, kesulitannya justru memicu gelombang solidaritas lain. Orang-orang dari penjuru India menawarkan diri membeli keanggotaan gymnya dari jarak jauh. Seperti ditulis seorang jurnalis, "Kita tidak bisa membiarkan orang baik kalah."
Di tengah semua ini, Deepak mencoba bertahan. Dia berusaha beradaptasi dengan status barunya sebagai simbol perlawanan. "Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar. Saya tidak pernah berpikir masalah ini akan menjadi sebesar ini," akunya.
Pertanyaannya sekarang: apakah dia menyesal? Tampaknya tidak. Meski dihantui trauma dan ketakutan, tekadnya tak goyah.
"Jika kita tetap diam hari ini, besok anak-anak kita juga akan belajar untuk diam," kata Deepak. Suaranya mungkin lelah, tapi pesannya jelas. Di kota kecil Kotdwar, sebuah pertahanan spontan terhadap seorang pria tua telah menyulut percikan yang jauh lebih besar tentang identitas, keberanian, dan harga dari sebuah kata: "Baba".
Artikel Terkait
Belanda Imbang Lawan Ekuador Usai Main dengan 10 Pemain Sejak Menit ke-12
Serangan Udara Israel Guncang Beirut Selatan, Mobil Dihantam Rudal Drone
Italia Tersingkir Lagi, Bosnia Lolos ke Piala Dunia 2026 Lewat Drama Adu Penalti
Israel Bantah Tudingan Sepihak Soal Tewasnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon