Upaya itu rupanya membuahkan hasil. Saat dicek pada Jumat malam (13/2), kondisi lokasi sudah menunjukkan perbaikan. “Malam ini saya sudah cek, sudah tidak ada lagi bara asap, dan baunya sudah berkurang dari yang terasa tadi pagi,” katanya memastikan.
Meski begitu, pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Masih ada puluhan drum biru berisi bahan baku pestisida yang harus diamankan. Rencananya, pemindahan drum-drum itu akan segera dilakukan.
“Besok pagi jam 07.00, beberapa drum biru yang ada di gudang, akan kita pindahkan ke lokasi lain,” tutur Diaz. Proses ini akan melibatkan Kementerian Pertanian, mengacu pada aturan yang berlaku, yaitu Permentan Nomor 24/2011. Untuk memantau dampak udara, KLH juga menggandeng PT Organo Science Lab guna melakukan pengujian.
Kebakaran di pabrik pestisida Kecamatan Setu ini sendiri bermula pada Senin (9/2) lalu. Bukan perkara mudah memadamkannya; petugas harus berjibaku selama tujuh jam dan menghabiskan dua truk pasir untuk mengatasi kobaran api yang berasal dari bahan-bahan kimia berbahaya.
Dampaknya pun ternyata merembet. Selain kerugian materi, insiden ini meninggalkan jejak pencemaran di Sungai Cisadane. Banyak ikan yang mati mendadak, sementara air sungai berubah warnanya menjadi putih pekat. Sebuah pemandangan yang memprihatinkan dan jadi pengingat betapa seriusnya insiden ini.
Artikel Terkait
Kasus Penyiraman Andrie Yunus Beralih ke Puspom TNI, Empat Personel Diamankan
Pengamat Sarankan Evaluasi Menteri di Tengah Krisis Global
Polisi Ungkap Motif Pembunuhan di Bekasi: Korban Tewas Usai Tolak Ajakan Mencuri
Kemiskinan dan Pengangguran di Jateng Turun, Luthfi Soroti Pentingnya Kolaborasi