Fadli Zon Dukung Rencana Peringatan 100 Tahun Jam Gadang

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:25 WIB
Fadli Zon Dukung Rencana Peringatan 100 Tahun Jam Gadang

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan dukungan penuhnya untuk rencana peringatan 100 tahun Jam Gadang. Baginya, momentum ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah bagian dari upaya yang lebih besar: memajukan kebudayaan dan mengukuhkan sejarah nasional kita.

“Kami mendukung rencana peringatan 100 tahun Jam Gadang,” tegas Fadli dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (14/2/2026).

“Apalagi jika dikaitkan dengan beragam kegiatan kebudayaan. Itu jelas penting untuk kemajuan budaya kita.”

Pernyataan itu disampaikan usai pertemuannya dengan Wali Kota Bukittinggi, Muhammad Ramlan Nurmatias, beserta jajarannya di Jakarta. Mereka duduk bersama membahas detail rencana. Mulai dari serangkaian acara kebudayaan untuk menyambut satu abad ikon kota itu, hingga upaya mengokohkan posisi Bukittinggi sebagai kota bersejarah dan kota perjuangan.

Dalam pertemuan itu, Fadli punya masukan. Ia mendorong Pemkot Bukittinggi untuk menjalin kolaborasi. Tidak hanya dengan pemerintah pusat, tapi juga dengan pihak swasta, filantropis, dan anggota DPR dari daerah pemilihan Sumbar.

“Dengan pembagian peran yang jelas, dukungan akan lebih mudah dihimpun,” tambahnya.

“Pelaksanaannya pun nanti bisa lebih optimal.”

Di sisi lain, Wali Kota Ramlan memaparkan bahwa Jam Gadang akan genap berusia seabad pada Juni 2026 mendatang. Menurutnya, menara jam itu lebih dari sekadar landmark. Ia adalah simbol sejarah yang kokoh, bertahan tanpa pergeseran, membuktikan keunggulan arsitektur dan teknik di masanya.

“Hingga kini, mesin jam buatan Jerman itu masih berfungsi dengan baik,” ucap Ramlan.

Untuk merayakannya, Pemkot telah menyiapkan segudang kegiatan. Rencananya akan ada aktivitas edukatif, pertunjukan seni, dan acara budaya. Bahkan, seminar nasional dan internasional yang digelar nanti akan dibukukan sebagai referensi untuk pengembangan Jam Gadang ke depan.

Logo resmi peringatan Satu Abad Jam Gadang sendiri sudah diluncurkan. Saat ini, mereka tengah merancang kegiatan lintas disiplin yang akan melibatkan ilmuwan, budayawan, seniman, arsitek, hingga insinyur. Mereka juga berencana mengundang Duta Besar Belanda dan Jerman sebagai pembicara, mengingat latar belakang kolonial dan asal mesin jam ikonik tersebut.

Namun begitu, wacana yang dibahas tidak berhenti di Jam Gadang. Ramlan juga menyoroti peran strategis Bukittinggi dalam kanvas sejarah Indonesia. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan di berbagai era, mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga sebagai ibu kota beberapa provinsi di Sumatra.

“Bukittinggi, Jakarta, dan Yogyakarta tidak bisa dipisahkan dalam sejarah bangsa,” pungkasnya dengan nada tegas.

“Kami adalah salah satu dari tiga daerah penerima duplikat Bendera Pusaka. Peran kami dalam perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan sangatlah vital.”

Pertemuan ini diharapkan jadi langkah awal yang konkret. Sinergi antara pusat dan daerah mutlak diperlukan, bukan hanya untuk merawat warisan seperti Jam Gadang, tapi juga untuk terus menegaskan posisi Bukittinggi sebagai salah satu pilar penting sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar