MURIANETWORK.COM - Hilangnya hutan secara permanen akibat aktivitas manusia tidak hanya memicu bencana ekologis, tetapi juga meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya. Peringatan ini disampaikan oleh ahli entomologi Prof. Upik Kesumawati Hadi dari IPB University. Menurutnya, kawasan bekas hutan yang berubah menjadi permukiman menjadi wilayah yang paling rentan mengalami dampak kesehatan ini.
Deforestasi, atau proses hilangnya tutupan hutan secara permanen, mengubah lanskap alam secara irreversibel. Kawasan yang dulunya rimbun dengan pepohonan sering kali beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, atau permukiman. Perubahan drastis ini tidak sekadar mengusir satwa liar, tetapi juga melenyapkan fungsi ekologis vital yang selama ini dijalankan oleh hutan.
Fungsi Ekologis yang Lenyap
Hutan berperan sebagai penopang utama kehidupan, mulai dari habitat bagi beragam flora dan fauna, penyeimbang siklus air, hingga pengatur iklim mikro. Ketika hutan musnah, seluruh mekanisme alam yang rumit itu pun ikut runtuh.
“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ungkap Prof. Upik dalam keterangannya.
Dampak paling mendasar dari kondisi ini adalah hilangnya habitat, terutama bagi spesies endemik yang tidak dapat beradaptasi di tempat lain. Para ahli mengkhawatirkan, jika laju deforestasi tidak ditekan, kepunahan massal berbagai makhluk hidup menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Dampak Langsung pada Perilaku Nyamuk
Di balik krisis keanekaragaman hayati, muncul ancaman lain yang lebih langsung menyentuh manusia: ledakan populasi nyamuk. Rusaknya habitat alami memutus rantai makanan dan mengusir inang liar yang biasa dijadikan sumber darah nyamuk. Akibatnya, nyamuk-nyamuk yang kehilangan sumber makanan itu pun beralih mencari mangsa baru yang lebih mudah dijangkau: manusia.
“Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” jelas Prof. Upik.
Fenomena ini bukan sekadar teori. Berbagai laporan penelitian di lapangan secara konsisten menunjukkan korelasi yang kuat. Wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi cenderung memiliki populasi nyamuk yang lebih padat dan risiko penularan penyakit yang lebih besar. Hilangnya keanekaragaman hayati menghilangkan “efek pengencer” alami, sehingga patogen lebih mudah berpindah kepada manusia.
Ancaman Kesehatan yang Nyata
Nyamuk bukanlah sekadar serangga pengganggu. Mereka adalah vektor atau perantara bagi sejumlah penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning. Peningkatan kontak antara nyamuk dan manusia di kawasan bekas hutan membuka pintu lebar-lebar bagi wabah penyakit-penyakit tersebut.
“Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” tegas guru besar IPB University itu.
Selain ancaman kesehatan, dampak kerusakan hutan berimbas pada siklus hidrologi. Tanpa pepohonan yang menahan dan menyerap air, risiko banjir, tanah longsor, dan kekeringan meningkat. Hutan yang hilang juga berarti hilangnya penyerap karbon alami, yang pada akhirnya memperparah akumulasi gas rumah kaca dan mempercepat laju perubahan iklim.
Jalan Keluar yang Diperlukan
Menghadapi tantangan yang kompleks ini, Prof. Upik menekankan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara komprehensif dan berlapis. Langkah restorasi seperti reboisasi dan penghijauan mutlak diperlukan untuk memulihkan ekosistem. Sementara itu, pengawasan ketat melalui patroli dan teknologi satelit, diikuti penegakan hukum yang tegas, penting untuk menghentikan praktik perambahan dan pembalakan liar.
Namun, upaya tersebut tidak akan lengkap tanpa melibatkan masyarakat. Edukasi dan kampanye lingkungan hidup diperlukan untuk membangun kesadaran kolektif. Masyarakat diharapkan dapat turut serta menjaga kelestarian hutan, termasuk dengan memanfaatkan sumber dayanya secara bijak dan bertanggung jawab untuk kehidupan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR: Afirmasi Saja Tak Cukup, Perlu Solidaritas Perempuan untuk Dongkrak Keterwakilan Politik
Suporter PSIR Rembang Serbu Lapangan dan Kejar Wasit Usai Kekalahan
Bahlil Lahadalia Siap Maju Caleg dari Dapil Papua pada 2029
Bamsoet: HUT ke-58 Fraksi Golkar Momentum Perkuat Komitmen Demokrasi dan Kesejahteraan