IHSG Terkoreksi 0,57%, Hentikan Tren Penguatan Tiga Hari Berturut-turut

- Jumat, 13 Februari 2026 | 10:30 WIB
IHSG Terkoreksi 0,57%, Hentikan Tren Penguatan Tiga Hari Berturut-turut

Gejolak di dalam negeri seolah mendapat penguat dari bursa global. Wall Street, misalnya, ditutup dengan kerugian tajam pada Jumat waktu setempat. Indeks Dow Jones anjlok 1,34%, S&P 500 merosot 1,57%, dan Nasdaq Composite bahkan hancur dengan kejatuhan 2,04%.

Pemicunya? Rupanya, kekhawatiran baru mulai muncul. Investor mulai mempertanyakan dampak gelap dari ekspansi kecerdasan buatan (AI) yang begitu masif. Di balik potensi efisiensi dan pertumbuhan, ada bayangan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di berbagai sektor. Ketakutan itu memicu aksi jual, terutama di saham-saham teknologi yang sebelumnya jadi primadona.

Gelisah dari AS langsung menjalar. Bursa Eropa mayoritas melemah, meski dengan kedalaman berbeda. FTSE 100 London turun 0,67%, DAX Jerman hampir datar. Hanya CAC 40 Prancis yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis.

Di Asia, suasana campur aduk. Nikkei Jepang nyaris stagnan, Hang Seng Hong Kong turun cukup dalam, sementara Shanghai Composite China masih mampu mencatatkan kenaikan sangat tipis.

Semua gejolak ini tercermin jelas di indeks ketakutan pasar, VIX, yang melonjak hampir 18 persen. Saat risiko tinggi, investor biasanya berlindung ke aset aman. Itu terlihat dari penurunan yield obligasi pemerintah AS, baik untuk tenor 2 tahun maupun 10 tahun.

Komoditas pun ikut terimbas. Harga minyak mentah WTI dan Brent sama-sama jatuh lebih dari 2%. Emas di Comex bahkan anjlok lebih dari 3 persen, diikuti perak dan tembaga yang mengalami penurunan lebih dalam.

Intinya, euforia AI yang selama ini mendongkrak pasar mulai dipertanyakan. Investor kini tak hanya melihat peluang, tapi juga mulai menghitung risikonya. Mereka mempertimbangkan potensi disrupsi besar-besaran terhadap lapangan kerja dan stabilitas ekonomi jangka panjang. Dan kekhawatiran itulah yang kini mendikte pergerakan pasar.

(SAW)

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar