IHSG Terkoreksi 0,57%, Hentikan Tren Penguatan Tiga Hari Berturut-turut

- Jumat, 13 Februari 2026 | 10:30 WIB
IHSG Terkoreksi 0,57%, Hentikan Tren Penguatan Tiga Hari Berturut-turut

Pembukaan perdagangan Jumat (13/2/2025) diwarnai awan mendung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok, melemah 0,57 persen atau sekitar 82 poin. Ini sekaligus menghentikan tren penguatan yang berlangsung selama tiga hari sebelumnya.

Tekanan terlihat merata. Indeks LQ45 dan JII ikut ambil ancang-ancang, masing-masing merosot 0,86 persen dan 0,71 persen. Saham-saham besar yang biasanya jadi penopang seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga ASII dan TLKM semuanya tercatat di zona merah di awal sesi.

Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, pelemahan ini sebenarnya sudah bisa ditebak.

"Menyusul penguatan signifikan selama tiga hari berturut-turut, IHSG kemarin terkoreksi 0,3% ke level 8.265,4," ujarnya.

Koreksi itu berjalan beriringan dengan pelemahan Rupiah yang menyentuh kisaran Rp16.818 per dolar AS. Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun relatif stabil di angka 6,44%.

Yang cukup mengkhawatirkan adalah aksi investor asing. Mereka kembali mencatatkan net sell yang sangat besar, mencapai sekitar Rp2 triliun di pasar reguler. Bank Central Asia (BBCA) lagi-lagi jadi sasaran empuk, dengan jual bersih asing di saham tersebut menyentuh Rp890 miliar.

Sentimen pasar memang sedang tidak bagus. Di satu sisi, ada kekhawatiran soal potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Di sisi lain, pemangkasan outlook peringkat utang Indonesia juga jadi beban pikiran para pelaku pasar.

Gelombang dari Wall Street

Gejolak di dalam negeri seolah mendapat penguat dari bursa global. Wall Street, misalnya, ditutup dengan kerugian tajam pada Jumat waktu setempat. Indeks Dow Jones anjlok 1,34%, S&P 500 merosot 1,57%, dan Nasdaq Composite bahkan hancur dengan kejatuhan 2,04%.

Pemicunya? Rupanya, kekhawatiran baru mulai muncul. Investor mulai mempertanyakan dampak gelap dari ekspansi kecerdasan buatan (AI) yang begitu masif. Di balik potensi efisiensi dan pertumbuhan, ada bayangan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di berbagai sektor. Ketakutan itu memicu aksi jual, terutama di saham-saham teknologi yang sebelumnya jadi primadona.

Gelisah dari AS langsung menjalar. Bursa Eropa mayoritas melemah, meski dengan kedalaman berbeda. FTSE 100 London turun 0,67%, DAX Jerman hampir datar. Hanya CAC 40 Prancis yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis.

Di Asia, suasana campur aduk. Nikkei Jepang nyaris stagnan, Hang Seng Hong Kong turun cukup dalam, sementara Shanghai Composite China masih mampu mencatatkan kenaikan sangat tipis.

Semua gejolak ini tercermin jelas di indeks ketakutan pasar, VIX, yang melonjak hampir 18 persen. Saat risiko tinggi, investor biasanya berlindung ke aset aman. Itu terlihat dari penurunan yield obligasi pemerintah AS, baik untuk tenor 2 tahun maupun 10 tahun.

Komoditas pun ikut terimbas. Harga minyak mentah WTI dan Brent sama-sama jatuh lebih dari 2%. Emas di Comex bahkan anjlok lebih dari 3 persen, diikuti perak dan tembaga yang mengalami penurunan lebih dalam.

Intinya, euforia AI yang selama ini mendongkrak pasar mulai dipertanyakan. Investor kini tak hanya melihat peluang, tapi juga mulai menghitung risikonya. Mereka mempertimbangkan potensi disrupsi besar-besaran terhadap lapangan kerja dan stabilitas ekonomi jangka panjang. Dan kekhawatiran itulah yang kini mendikte pergerakan pasar.

(SAW)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar