"Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan," jelasnya.
Dampaknya cukup signifikan. Selain mengurangi ketergantungan pada LPG, pemanfaatan biogas ini berpotensi menekan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO2e per tahun. Bonusnya, residu dari proses biogas tadi bisa diolah lagi menjadi pupuk cair dan padat yang tentunya ramah untuk pertanian.
Lalu, bagaimana dengan Solar Dryer House di Babakan Asem? Fasilitas ini hadir sebagai jawaban atas persoalan lama para petani, khususnya dalam mengeringkan bawang merah dan padi pascapanen. Selama ini mereka masih bergantung pada penjemuran terbuka yang rentan terhadap cuaca dan debu.
Teknologi pengering berbasis tenaga matahari ini dirancang untuk menjaga suhu tetap stabil. Hasilnya, kualitas panen lebih merata dan tentu saja, nilai jualnya bisa lebih tinggi. Ini berita bagus untuk kesejahteraan petani di sana.
Pada akhirnya, melalui dua program ini, masyarakat tak cuma dapat akses energi yang lebih bersih. Kapasitas mereka dalam mengelola sumber daya lokal juga ikut terasah. Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan pihak swasta ini diharapkan bisa jadi model yang bisa diterapkan di wilayah lain di Sukabumi. Harapannya jelas: perekonomian di dua desa tersebut bisa terdongkrak, dan pembangunan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana.
Redaktur & Reporter : Yessy Artada
Artikel Terkait
Menteri Fadli Zon Dorong Museum Song Terus Pacitan Jadi Pusat Edukasi Prasejarah
Indonesia dan Jepang Pererat Kerja Sama Konservasi Lewat Inisiatif Sister Park
Polri Resmikan Laboratorium Sosial Sains untuk Kembangkan Model Pemolisian Berbasis Data
Tabrakan di Tikungan 11 Gagalkan Balapan Veda Ega Pratama di Moto3 AS