Wakil Ketua MPR Desak Peningkatan Literasi, Soroti Skor PISA Indonesia yang Jauh di Bawah Rata-rata OECD

- Kamis, 12 Februari 2026 | 10:05 WIB
Wakil Ketua MPR Desak Peningkatan Literasi, Soroti Skor PISA Indonesia yang Jauh di Bawah Rata-rata OECD

MURIANETWORK.COM - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendesak adanya peningkatan kemampuan bahasa dan literasi bagi generasi muda Indonesia. Seruan ini disampaikan menyusul data terbaru yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi pelajar Indonesia masih tertinggal jauh dari rata-rata internasional, sebuah kondisi yang berpotensi melemahkan daya saing bangsa di masa depan.

Literasi Bukan Hanya Soal Baca Tulis, Tapi Fondasi Daya Saing

Dalam pernyataannya pada Kamis (12/2/2026), Lestari Moerdijat menekankan bahwa penguasaan bahasa dan literasi memiliki peran yang jauh lebih strategis. Menurutnya, kemampuan ini merupakan landasan fundamental bagi tumbuhnya gagasan dan kreativitas.

"Kemampuan berbahasa dan literasi yang baik bukan sekadar bagian dari alat untuk berkomunikasi, melainkan fondasi bagi setiap anak bangsa agar dapat merumuskan gagasan dan mengekspresikan kreativitas yang merupakan dasar untuk mewujudkan daya saing," jelasnya.

Data Terkini Menggambarkan Tantangan yang Nyata

Kekhawatiran tersebut bukannya tanpa dasar. Lestari mengutip hasil studi PISA 2022 (Program for International Student Assessment) yang mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359 poin. Angka ini mengalami penurunan dari capaian tahun 2018 yang sebesar 371 poin.

Yang lebih memprihatinkan, capaian itu masih sangat jauh di bawah rata-rata negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang berada di kisaran 476 poin. "Kemampuan literasi pelajar Indonesia masih terpaut jauh," tuturnya, mengakui adanya jurang pencapaian yang signifikan.

Di sisi lain, terdapat secercah potensi dari data lain. Catatan Goodstats pada 2025 mengungkapkan bahwa 26% generasi Z mengaku membaca buku setiap hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi milenial (20%) dan Generasi X (18%). Namun, potensi ini dinilai belum cukup tanpa intervensi yang serius.

Perlu Sinergi Multipihak untuk Perbaikan Fondasi

Menghadapi data yang beragam itu, Lestari menilai diperlukan langkah nyata dan kolektif. Membangun fondasi daya saing dari kondisi literasi yang masih tertinggal, menurutnya, membutuhkan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Untuk melahirkan generasi yang berdaya saing melalui peningkatan literasi, diperlukan sinergi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat," ungkapnya menegaskan.

Ia berpendapat bahwa budaya membaca dan menulis harus dibangun sejak dini sebagai sebuah kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban yang bersifat formal akademis. Untuk mewujudkannya, ia mendorong penguatan program literasi nasional yang terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi, sehingga akses terhadap bahan bacaan berkualitas dapat menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil.

Optimisme Menuju Generasi Cerdas dan Kreatif

Meski tantangannya besar, Lestari Moerdijat menyimpan optimisme. Dengan komitmen bersama untuk menempatkan kemampuan berbahasa sebagai fondasi dan literasi sebagai pilar utama, ia yakin Indonesia mampu mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kreatif secara emosional.

"Sehingga dapat terbangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri setiap anak bangsa di era persaingan global saat ini," tutupnya. Keyakinan ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa upaya meningkatkan literasi adalah investasi jangka panjang untuk ketangguhan bangsa.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar