Perlu Sinergi Multipihak untuk Perbaikan Fondasi
Menghadapi data yang beragam itu, Lestari menilai diperlukan langkah nyata dan kolektif. Membangun fondasi daya saing dari kondisi literasi yang masih tertinggal, menurutnya, membutuhkan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
"Untuk melahirkan generasi yang berdaya saing melalui peningkatan literasi, diperlukan sinergi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat," ungkapnya menegaskan.
Ia berpendapat bahwa budaya membaca dan menulis harus dibangun sejak dini sebagai sebuah kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban yang bersifat formal akademis. Untuk mewujudkannya, ia mendorong penguatan program literasi nasional yang terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi, sehingga akses terhadap bahan bacaan berkualitas dapat menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil.
Optimisme Menuju Generasi Cerdas dan Kreatif
Meski tantangannya besar, Lestari Moerdijat menyimpan optimisme. Dengan komitmen bersama untuk menempatkan kemampuan berbahasa sebagai fondasi dan literasi sebagai pilar utama, ia yakin Indonesia mampu mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kreatif secara emosional.
"Sehingga dapat terbangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri setiap anak bangsa di era persaingan global saat ini," tutupnya. Keyakinan ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa upaya meningkatkan literasi adalah investasi jangka panjang untuk ketangguhan bangsa.
Artikel Terkait
Lebaran 2026: Kunjungan Wisata Jatim Tembus 5,3 Juta, Naik 18 Persen
Subaru Sambar 2026 Perbarui Fitur Keselamatan, Pertahankan Desain Ikonik
Petugas Bersihkan Tumpukan Sampah Pasar Kramat Jati, Tapi Hanya Bantuan Darurat
Mayjen (Purn) Soenarko Pimpin Gugatan Warga ke PN Jaksel Soal Penanganan Kasus Ijazah Presiden