Deflasi Produsen China Mengendur, Inflasi Konsumen Justru Melambat

- Rabu, 11 Februari 2026 | 12:15 WIB
Deflasi Produsen China Mengendur, Inflasi Konsumen Justru Melambat

Nyatanya, tekanan deflasi secara keseluruhan belum sirna. Situasi ini menggerus pendapatan dan laba perusahaan. Deflator PDB China bahkan tercatat turun selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025 periode terpanjang sejak reformasi ekonomi akhir 1970-an. Inflasi inti, yang mengecualikan makanan dan energi, juga cuma naik 0,8%, level terendah dalam enam bulan.

Ahli Statistik NBS, Dong Lijuan, punya penjelasan. Perlambatan inflasi, selain karena basis tinggi, juga dipengaruhi fluktuasi harga minyak global yang menekan biaya energi dalam negeri. Pergeseran waktu Tahun Baru Imlek juga berperan. Tahun lalu liburan jatuh di akhir Januari, tahun ini sepenuhnya di Februari, yang pasti mempengaruhi pola konsumsi.

Tekanan deflasi ini sudah berlangsung lama, dipicu krisis properti yang tak kunjung usai dan konsumsi rumah tangga yang lemah. Kelebihan kapasitas produksi di banyak industri memperparah keadaan, memicu perang harga yang menggerus profitabilitas. Pemerintah pun akhirnya turun tangan dengan kampanye “anti-involution” untuk tekan persaingan tidak sehat, dari kendaraan listrik sampai layanan pesan-antar makanan.

Namun begitu, ada secercah harapan. Beberapa rantai restoran besar seperti KFC dan Cotti Coffee mulai menaikkan harga di platform pengantaran, mengakhiri diskon agresif setelah ada penyelidikan regulator. Bloomberg Economics memperkirakan ekonomi China baru akan masuk fase reflasi di pertengahan 2026, didukung subsidi konsumsi dan kebijakan pembatasan persaingan berlebihan.

Catatan untuk 2025 sendiri suram: inflasi tahunan nol persen terendah sejak 2009. Tapi secara bulanan, harga produsen sudah naik sejak Oktober, tren terpanjang sejak awal 2022. Dong menyebutkan, ini berkat kombinasi reli harga logam global, kebijakan batasi kompetisi, dan peningkatan permintaan untuk elektronik pendukung AI. Harga bahan logam nonferrous melonjak 16,1% secara tahunan di Januari, bahkan output industri pengolahannya melesat 22,7%.

Perlu diingat, data Januari ini juga menggunakan keranjang barang-jasa terbaru untuk CPI dan PPI, yang direvisi tiap lima tahun. Bobot untuk makan di luar, transportasi-komunikasi, dan layanan kesehatan naik. Sementara porsi untuk pakaian dan perumahan dikurangi.

Di tengah semua ini, pejabat China menegaskan bahwa menjaga pemulihan harga yang wajar tetap jadi prioritas kebijakan moneter 2026. Bank sentral China (PBOC) berkomitmen menggunakan instrumen secara fleksibel, termasuk potong suku bunga dan rasio giro wajib minimum (RRR).

Tapi analis Huaxi Securities punya pandangan lebih hati-hati. Mereka menilai pelonggaran kebijakan signifikan baru akan dilakukan jika ekonomi melambat tajam atau ada guncangan eksternal, seperti kenaikan tarif AS.

PBOC sendiri merasa sudah ada perubahan positif pada harga. Mereka yakin upaya pemerintah dorong konsumsi akan tingkatkan kepercayaan pasar dan topang pemulihan inflasi.

Lynn Song, ekonom ING Bank untuk China Raya, punya kesimpulan yang realistis. Menurutnya, inflasi yang terus meleset dari target kemungkinan tak akan mengubah arah kebijakan moneter secara signifikan. Tapi, dengan indikator domestik yang masih lemah belakangan ini, ruang untuk pelonggaran kebijakan tetap terbuka lebar sepanjang tahun.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar