"Kalau tidak digaji itu bebas, bisa ke mana-mana. Kalau digaji kan terikat," tuturnya menjelaskan alasan di balik keputusannya.
Kehidupan di Kelenteng yang Menghadap Timur
Meski tak menerima gaji rutin, Slamet mengaku kerap mendapat sumbangan sukarela dari para peziarah dan wisatawan yang datang. Dengan kondisi fisik di mana kakinya tidak bisa berjalan sempurna, ia tetap lincah menjalani rutinitas di dalam kelenteng berukuran sekitar 20 x 20 meter itu. Selama tiga dekade, bangunan yang menghadap ke timur ini telah menjadi saksi bisu perjumpaannya dengan orang-orang dari berbagai penjuru, baik domestik maupun mancanegara. Keramaian biasanya meningkat signifikan saat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
"Dari luar kota banyak, dari Jakarta ada. Pernah juga orang Belanda datang sama istrinya orang Indonesia," ujarnya sambil mengenang berbagai momen pertemuan tersebut.
Harmoni dalam Perbedaan Keyakinan
Latar belakang agamanya yang berbeda dengan fungsi kelenteng sama sekali bukan halangan bagi Slamet. Baginya, nilai-nilai kemanusiaan dan etos kerja yang baik jauh lebih utama. Sikapnya yang terbuka dan toleran menjadi fondasi kokoh bagi pengabdian panjangnya di tengah laut.
"Semuanya sama saja menurut saya, tidak masalah," ungkapnya dengan kalimat singkat yang sarat makna, mencerminkan kedamaian dan penerimaan yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
Artikel Terkait
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK
TNI AU Gelar Bakti Sosial, Berikan Kaki Palsu Gratis di Yogyakarta