Pola pikir ini justru menjerumuskan. Pembangunan hotel, vila, tempat wisata terus dipacu di zona merah, seolah peta risiko itu tidak ada. Harus kita katakan dengan tegas: ekonomi yang dibangun di atas kerentanan bencana adalah ekonomi yang rapuh. Kehancuran infrastruktur bisa menghapus keuntungan puluhan tahun dalam hitungan detik.
Lihat saja Palu.
Kota itu lumpuh total karena tata ruangnya mengabaikan peringatan sains. Bandung sedang berjalan di tepi jurang yang sama, jika kita membiarkan hunian dan bisnis tumbuh subur di radius 100-150 meter dari garis patahan.
Melawan Mitos, Mengedepankan Data
Jadi, mitigasi Sesar Lembang harus diawali dengan revolusi nalar dan budaya. Pendekatan teknis macam membangun jalur evakuasi tak akan ada gunanya jika cara berpikir masyarakat masih mistis. Kita harus berhenti meninabobokan publik dengan kalimat penenang yang palsu.
Pertama, integrasikan kurikulum kebencanaan yang berbasis data lokal. Siswa di Bandung Raya tak boleh cuma hafal teori gempa umum. Mereka harus paham posisi sekolah dan rumah mereka relatif terhadap jalur sesar. Pengetahuan ini harus aplikatif. Generasi muda bisa jadi agen perubahan, membawa data sains ke meja makan untuk mendobrak kejumudan orang tua.
Kedua, terjemahkan data sains jadi bahasa yang membumi. Istilah teknis seperti 'amplifikasi' atau 'likuefaksi' harus disederhanakan agar dipahami pedagang pasar, supir angkot, atau ibu-ibu rumah tangga. Peringatan dini BMKG soal aktivitas mikrotremor di Cimeta harus sampai ke grup WhatsApp warga dengan narasi yang membangun kewaspadaan rasional. Transparansi informasi itu kunci. Menutup-nutupi data demi "ketenangan" adalah kejahatan publik.
Ketiga, jadikan standar bangunan tahan gempa sebagai gaya hidup, bahkan simbol status baru. Punya rumah dengan struktur beton bertulang yang kuat harusnya jadi kebanggaan, setara dengan punya kendaraan mewah. Pemerintah bisa beri insentif pajak untuk bangunan bersertifikat tahan gempa. Sebaliknya, beri sanksi tegas sosial dan administratif untuk bangunan komersial yang abai.
Pada akhirnya, menghadapi Sesar Lembang butuh lebih dari alat deteksi canggih atau anggaran besar. Kita butuh masyarakat yang rasional dan berdaya. Warga yang bisa membaca tanda alam, seperti kenaikan Gunung Batu itu, lalu meresponsnya dengan persiapan matang.
Pilihannya ada di kita: bersiap dengan akal sehat, atau pasrah menunggu giliran jadi korban akibat ketidaktahuan sendiri.
Randi Syafutra. Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kandidat Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University, & Pendiri TERRA Indonesia.
Artikel Terkait
22 Migran Tewas dalam Penyelamatan Kapal di Perairan Kreta
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK