Lalu, apa kunci di balik angka yang menggembirakan ini? Asnawi membeberkan dua pilar utama. Pertama, ketangguhan dalam manajemen klinis di fasilitas kesehatan. Kedua, dan ini yang kerap ditekankan, adalah peran aktif masyarakat lewat program Juru Pemantau Jentik (Jumantik).
Memang, perjalanan tak selalu mulus. Tahun 2024 sempat terjadi lonjakan kasus, didorong fenomena El Nino. Tapi responsnya cepat. Adopsi teknologi kesehatan terbaru digandengkan dengan penguatan aksi di tingkat akar rumput. Hasilnya, pemulihan berjalan cukup baik.
Asnawi kembali menegaskan, kerja keras para relawan di lapangan adalah fondasi yang tak tergantikan.
“Keberhasilan ini menunjukkan kekuatan layanan kesehatan kita dan dahsyatnya aksi komunitas, terutama melalui program Jumantik, relawan pemantau jentik kita yang bekerja dari pintu ke pintu untuk menghentikan dengue langsung dari sumbernya,” jelasnya.
Jadi, meski ancaman DBD masih nyata, langkah-langkah yang ditempuh sejauh ini memberikan secercah harapan. Target 2030 masih jauh, tapi setidaknya fondasi untuk mencapainya sudah mulai kokoh terbangun.
Artikel Terkait
Prabowo Bahas Gaza dan Kondisi Dalam Negeri Bersama Tokoh Ormas Islam
Gelombang Pemudik Masih Padati Bakauheni di H+7 Lebaran
Kuasa Hukum Jap Ferry Sanjaya Tuntut Vrijspraak, Sebut Kasus Plaza Klaten Murni Perdata
Perumda Pasar Jaya Genjot Pengangkutan 6.970 Ton Sampah di Pasar Kramat Jati