Selain itu, fluktuasi suku bunga bank juga jadi momok. Soalnya, ini langsung berhubungan dengan kemudahan masyarakat mengakses kredit. "Suku bunga, saat ini BI Rate 4,75, kalau pertengahan tahun turun lagi, lebih bagus," imbuhnya.
Tak ketinggalan, gejolak nilai tukar rupiah ikut bermain. Intinya, target 850 ribu unit itu memang proyeksi, tapi sangat mungkin berubah tergantung angin ekonomi yang berhembus.
Kalau kita tilik ke belakang, kondisi 2025 memang suram. Data wholesales atau penjualan dari pabrik ke diler cuma 803.687 unit. Angka itu turun 7,2% dibanding 2024.
Di sisi ritel, ceritanya serupa. Penjualan dari diler ke konsumen sepanjang 2025 tercatat 833.692 unit, turun 6,3% dari tahun sebelumnya. Pelemahan daya beli, terutama dari kalangan menengah, disebut-sebut jadi biang keroknya.
Jadi, optimisme untuk 2026 ada. Tapi, langkah industri otomotif ke depan masih akan diuji oleh banyak ketidakpastian.
Artikel Terkait
Menteri Fadli Zon Dorong Museum Song Terus Pacitan Jadi Pusat Edukasi Prasejarah
Indonesia dan Jepang Pererat Kerja Sama Konservasi Lewat Inisiatif Sister Park
Polri Resmikan Laboratorium Sosial Sains untuk Kembangkan Model Pemolisian Berbasis Data
Tabrakan di Tikungan 11 Gagalkan Balapan Veda Ega Pratama di Moto3 AS