MURIANETWORK.COM - PT MRT Jakarta (Persero) mengonfirmasi bahwa pembangunan fisik untuk jalur Mass Rapid Transit (MRT) Timur-Barat atau East-West Line akan dimulai pada tahun ini. Proyek strategis ini direncanakan menghubungkan Medan Satria di Bekasi dengan kawasan Tomang di Jakarta Barat, membentang sepanjang 25 kilometer, dan akan dikerjakan dalam beberapa paket konstruksi.
Rincian Konstruksi dan Tahapan Pengerjaan
Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, memberikan penjelasan lebih rinci mengenai tahap awal pembangunan. Dalam sebuah acara di Jakarta, ia menyatakan bahwa pengerjaan akan segera dimulai dengan fokus pada sejumlah paket kontrak dan persiapan fasilitas pendukung.
"Pembangunan East-West Line, Timur-Barat dari Medan Satria sampai dengan Tomang 25 km itu kita mulai tahun ini," ucap Tuhiyat.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa tahap awal tahun ini akan menyasar pembangunan untuk paket 104 dan 109, yang mencakup seksi bawah tanah di kawasan Thamrin menuju Senen. Selain itu, persiapan untuk membangun depo kereta di wilayah Rorotan, Jakarta Utara, juga akan segera dilakukan.
"Tahun ini kita awali dengan pembangunan Paket 104 dan 109. Untuk Thamrin dan arah ke Senen, underground. Kemudian untuk pembangunan depo yang ada di kawasan Rorotan," tambahnya.
Peta Jangka Panjang dan Fase Pembangunan
Proyek MRT East-West Line dirancang dengan skala besar dan terbagi dalam beberapa fase pengerjaan yang berjangka panjang. Fase pertama, yang seluruhnya berada di wilayah DKI Jakarta, ditargetkan dapat beroperasi penuh pada 2031. Fase ini sendiri terbagi menjadi dua tahap: stage pertama sepanjang 24,5 km dari Tomang ke Medan Satria, dan stage kedua sepanjang 9,237 km dari Tomang ke Kembangan.
Adapun fase kedua proyek akan memperluas jaringan hingga ke wilayah penyangga ibu kota. Rencananya, jalur akan memanjang ke arah Banten sejauh 29,9 km menuju Balaraja, serta ke arah Jawa Barat sepanjang 20,438 km menuju Cikarang. Operasional untuk fase kedua ini ditargetkan dapat dimulai pada 2033.
Dampak dan Rancangan Infrastruktur
Keberadaan jalur baru ini diharapkan dapat merevolusi pola mobilitas warga Jabodetabek. Untuk rute awal Medan Satria-Tomang saja, akan disediakan 21 stasiun yang dirancang dengan kombinasi struktur layang dan terowongan bawah tanah, menyesuaikan dengan kondisi dan kepadatan wilayah yang dilintasi. Pembangunan berkelanjutan ini menunjukkan komitmen jangka panjang dalam mengembangkan transportasi massal yang terintegrasi, yang pada akhirnya bertujuan meredam kemacetan dan meningkatkan aksesibilitas publik.
Artikel Terkait
Militer Israel Tewaskan 4 Orang di Rafah, Sebut Pelanggaran Gencatan Senjata
Cara Cek Status Keaktifan BPJS Kesehatan: Via Aplikasi, WhatsApp, hingga Telepon
VinFast Andalkan Layanan dan Ekosistem untuk Bangun Kepercayaan di Pasar Indonesia
Korlantas Siapkan Antisipasi Komprehensif untuk Arus Mudik Idul Fitri 2026