MURIANETWORK.COM - Organisasi riset ekonomi ASEAN 3, AMRO, genap berusia satu dekade sebagai organisasi internasional. Peringatan sepuluh tahun ini menandai transformasi lembaga tersebut dari unit pendukung menjadi penasihat kebijakan makroekonomi dan keuangan yang kredibel bagi kawasan. Pencapaian ini diraih di tengah berbagai tantangan global, mulai dari pandemi hingga ketegangan geopolitik, yang turut membentuk peran dan kontribusinya.
Sejak resmi berdiri secara independen pada 2016, perjalanan AMRO menunjukkan perkembangan yang signifikan. Awalnya dibentuk untuk mendukung mekanisme pembiayaan darurat regional CMIM, lembaga ini kini telah berevolusi menjadi institusi profesional dengan mandat penuh untuk menjaga ketahanan ekonomi dan stabilitas keuangan di wilayah ASEAN 3. Selama sepuluh tahun terakhir, AMRO secara konsisten memberikan analisis, rekomendasi kebijakan, serta program peningkatan kapasitas bagi para negara anggotanya.
Membangun Kredibilitas di Tengah Tantangan Global
Dekade pertama AMRO tidak berjalan di ruang hampa. Periode tersebut justru diwarnai serangkaian ujian berat yang menguji ketangguhan kawasan, mulai dari krisis kesehatan global, siklus moneter ketat, hingga fragmentasi perdagangan. Tantangan-tantangan inilah yang kemudian memperkuat fondasi dan relevansi organisasi.
“Dekade pertama AMRO adalah tentang membangun kredibilitas, independensi, dan kepercayaan,” ujar Yasuto Watanabe, Direktur sekaligus CEO AMRO.
“Itu juga merupakan dekade pengujian di tengah ketidakpastian global yang meningkat dan guncangan berulang, termasuk pandemi global, siklus pengetatan keuangan yang tajam, ketegangan perdagangan, dan konflik geopolitik,” lanjutnya. Menurut Watanabe, berbagai gejolak itu telah membentuk karakter baik kawasan maupun lembaga yang dipimpinnya.
Perubahan Fokus: Dari Respons Krisis ke Membangun Ketahanan
Seiring waktu, mandat AMRO mengalami pergeseran penekanan yang alami. Jika awalnya berfokus pada respons krisis, kini lembaga tersebut lebih proaktif dalam membangun ketahanan ekonomi jangka panjang. Upaya ini diwujudkan melalui identifikasi kerentanan, penyusunan nasihat kebijakan yang antisipatif, serta penguatan dialog antar-pemerintah.
“AMRO telah berkembang dari merespons krisis menjadi membantu kawasan mempersiapkan masa depan,” tambah Watanabe.
“Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, kerja sama dan integrasi regional menjadi lebih penting dari sebelumnya,” tegasnya. Ia menekankan bahwa institusi semacam AMRO berperan sebagai jangkar stabilitas dan kepercayaan yang memfasilitasi aksi kolektif.
Menatap Dekade Kedua dengan Agenda Baru
Memasuki era baru, AMRO tidak berpuas diri. Lembaga ini menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi kompleksitas ekonomi masa depan. Rencananya, kapasitas analitis akan diperdalam, kerangka kerja diperkuat, dan investasi pada talenta ditingkatkan. Kelincahan dalam merespons ketidakpastian tetap menjadi prioritas.
Kawasan ASEAN 3 sendiri tengah menghadapi gelombang transformasi besar, seperti digitalisasi, transisi iklim, dan perubahan demografis. Menyikapi hal ini, AMRO berkomitmen untuk mendukung integrasi regional yang lebih dalam. Posisinya sebagai penasihat kebijakan yang dipercaya dan pemikir strategis diharapkan semakin kokoh, tidak hanya secara regional tetapi juga dalam percakapan global.
Momen peringatan sepuluh tahun ini, bagi AMRO, lebih dari sekadar refleksi. Ia menjadi batu pijakan untuk melihat ke depan dengan penuh keyakinan. Relevansi, kredibilitas, dan komitmen untuk melayani kawasan akan terus dipertahankan.
“Satu dekade berlalu, AMRO melangkah maju dengan satu kawasan yang bersatu oleh tujuan bersama dan satu suara terpercaya untuk ASEAN 3,” pungkas Watanabe menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
BYD Luncurkan ATTO 3 Advanced Plus di IIMS 2026, Klaim Jarak Tempuh 410 Km
Penerima PIP 2025 Diingatkan Batas Akhir Aktivasi Rekening 28 Februari 2026
241 Napi Berisiko Tinggi Ditambah, Total di Nusakambangan Capai 2.189 Orang
Rosenior Kecewa Meski Chelsea Menang, Soroti Kebobolan dari Bola Mati