Pakar Ingatkan Program Gizi dan Gentengisasi Perlu Diiringi Perbaikan Kualitas Guru

- Senin, 09 Februari 2026 | 09:45 WIB
Pakar Ingatkan Program Gizi dan Gentengisasi Perlu Diiringi Perbaikan Kualitas Guru
Makan Bergizi dan Gentengisasi: Fondasi Belajar yang Perlu Disempurnakan

MURIANETWORK.COM - Pemerintah mulai menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah dan merencanakan perbaikan rumah layak huni melalui gentengisasi. Kedua kebijakan ini bertujuan membangun fondasi biologis dan lingkungan yang lebih baik untuk mendukung proses belajar anak. Namun, pakar pendidikan mengingatkan bahwa upaya ini baru akan bermakna jika diiringi dengan peningkatan kualitas pengalaman belajar di kelas dan perhatian serius pada kesejahteraan guru sebagai pelaksana utama.

Dua Fondasi Utama: Gizi dan Lingkungan Hunian

Program MBG yang digulirkan di sejumlah sekolah bukanlah solusi instan untuk menaikkan nilai akademik. Perannya lebih mendasar: menjaga stabilitas energi, daya tahan fisik, dan kesiapan mental siswa selama jam pelajaran. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi, risiko kelelahan dini, gangguan konsentrasi akibat lapar, serta fluktuasi emosi dapat dikurangi. Meski demikian, asupan di sekolah juga perlu diperhatikan agar tidak justru memicu kantuk atau penurunan fokus sesaat.

Di sisi lain, wacana gentengisasi mencerminkan pemahaman bahwa pengalaman belajar anak tidak hanya dibentuk di dalam kelas. Kondisi rumah yang aman dari bocor, panas berlebih, dan kebisingan sangat memengaruhi kualitas istirahat, rasa aman, serta stabilitas emosi siswa. Lingkungan hunian yang layak menciptakan ketenangan psikologis bagi seluruh keluarga, sehingga proses belajar tidak terus dibayangi kecemasan akan tempat tinggal.

Dengan kata lain, pemenuhan gizi dan perbaikan lingkungan merupakan prasyarat penting yang menyiapkan panggung bagi pembelajaran. Namun, panggung yang bagus saja tidak cukup tanpa pertunjukan yang berkualitas.

Pertanyaan Kritis: Apakah Pengalaman Belajar Ikut Meningkat?

Kebijakan yang menyentuh fondasi pembelajaran ini patut diapresiasi. Akan tetapi, muncul pertanyaan mendasar: ketika gizi dan kondisi rumah membaik, apakah pengalaman belajar siswa di sekolah juga bergerak ke arah yang lebih baik? Kesiapan biologis dan lingkungan yang memadai tidak serta-merta melahirkan pembelajaran yang berkualitas.

Mutu pembelajaran justru ditentukan oleh bagaimana kesiapan itu diolah melalui pengalaman belajar yang terarah, menantang, dan memungkinkan tumbuhnya pemahaman mendalam. Di sinilah peran guru menjadi penentu utama, dan ironisnya, di titik ini pula mereka paling rentan terdampak jika kebijakan hanya berfokus pada siswa tanpa memerhatikan kebutuhan dasar para pendidik.

Dampak Tersembunyi pada Guru dan Ruang Kelas

Ketika tuntutan profesional tinggi tidak diimbangi dengan penghargaan dan kesejahteraan yang memadai, dampaknya bisa menggerus motivasi dan kesehatan mental guru. Ketegangan batin ini sering kali tidak terlihat, namun dirasakan sangat kuat.

“Dalam situasi tertentu, guru menyaksikan bahwa peran pendukung program seperti logistik atau operasional dihargai lebih layak secara ekonomi dibandingkan kerja pedagogis yang menuntut kesabaran, tanggung jawab moral dan keterlibatan emosional jangka panjang,” ungkap Deni Hadiana, Peneliti Pendidikan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Dia melanjutkan, ketimpangan semacam ini berpotensi memicu kelelahan emosional, sinisme profesional, dan sikap mengajar sekadar bertahan. Akibatnya, guru yang kehabisan energi psikis akan kesulitan merancang pembelajaran secara reflektif, memberikan umpan balik yang bermakna, atau mendampingi siswa dengan kesabaran penuh. Bukan karena kurang kompetensi, melainkan karena energi mereka habis untuk sekadar bertahan.

Jalan ke Depan: Membangun Ekosistem yang Memuliakan Proses Belajar

Oleh karena itu, langkah ke depan harus memastikan bahwa kebijakan untuk siswa berjalan beriringan dengan perlindungan martabat dan kesehatan mental guru. Penguatan kebutuhan dasar pendidik meliputi kesejahteraan, beban kerja yang wajar, dan pengakuan profesional bukanlah isu sektoral, melainkan prasyarat sistemik bagi mutu pembelajaran secara keseluruhan.

Tanpa perhatian pada dimensi ini, kebijakan sebaik apa pun berisiko kehilangan daya ubahnya di momen yang paling menentukan: interaksi belajar-mengajar sehari-hari di dalam kelas.

Upaya menumbuhkan pembelajaran berkualitas menuntut keberanian untuk menata ulang prioritas. Fondasi yang sudah dibangun melalui MBG dan gentengisasi harus bisa diolah secara optimal oleh guru yang merasa dihargai, aman, dan mampu hadir sepenuhnya dalam tugas mulianya.

Pada akhirnya, pembelajaran berkelas tidak tumbuh dari program yang berdiri sendiri. Ia lahir dari ekosistem pendidikan yang secara utuh memuliakan proses belajar dan para pelaku yang menghidupkannya setiap hari. Ketika guru mendapatkan penghargaan yang manusiawi dan dukungan yang adil, barulah fondasi kokoh yang disiapkan negara dapat menjelma menjadi pengalaman belajar yang sungguh dirasakan dan bermakna bagi setiap murid.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar