Pakar Ingatkan Program Gizi dan Gentengisasi Perlu Diiringi Perbaikan Kualitas Guru

- Senin, 09 Februari 2026 | 09:45 WIB
Pakar Ingatkan Program Gizi dan Gentengisasi Perlu Diiringi Perbaikan Kualitas Guru

Ketika tuntutan profesional tinggi tidak diimbangi dengan penghargaan dan kesejahteraan yang memadai, dampaknya bisa menggerus motivasi dan kesehatan mental guru. Ketegangan batin ini sering kali tidak terlihat, namun dirasakan sangat kuat.

“Dalam situasi tertentu, guru menyaksikan bahwa peran pendukung program seperti logistik atau operasional dihargai lebih layak secara ekonomi dibandingkan kerja pedagogis yang menuntut kesabaran, tanggung jawab moral dan keterlibatan emosional jangka panjang,” ungkap Deni Hadiana, Peneliti Pendidikan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Dia melanjutkan, ketimpangan semacam ini berpotensi memicu kelelahan emosional, sinisme profesional, dan sikap mengajar sekadar bertahan. Akibatnya, guru yang kehabisan energi psikis akan kesulitan merancang pembelajaran secara reflektif, memberikan umpan balik yang bermakna, atau mendampingi siswa dengan kesabaran penuh. Bukan karena kurang kompetensi, melainkan karena energi mereka habis untuk sekadar bertahan.

Jalan ke Depan: Membangun Ekosistem yang Memuliakan Proses Belajar

Oleh karena itu, langkah ke depan harus memastikan bahwa kebijakan untuk siswa berjalan beriringan dengan perlindungan martabat dan kesehatan mental guru. Penguatan kebutuhan dasar pendidik meliputi kesejahteraan, beban kerja yang wajar, dan pengakuan profesional bukanlah isu sektoral, melainkan prasyarat sistemik bagi mutu pembelajaran secara keseluruhan.

Tanpa perhatian pada dimensi ini, kebijakan sebaik apa pun berisiko kehilangan daya ubahnya di momen yang paling menentukan: interaksi belajar-mengajar sehari-hari di dalam kelas.

Upaya menumbuhkan pembelajaran berkualitas menuntut keberanian untuk menata ulang prioritas. Fondasi yang sudah dibangun melalui MBG dan gentengisasi harus bisa diolah secara optimal oleh guru yang merasa dihargai, aman, dan mampu hadir sepenuhnya dalam tugas mulianya.

Pada akhirnya, pembelajaran berkelas tidak tumbuh dari program yang berdiri sendiri. Ia lahir dari ekosistem pendidikan yang secara utuh memuliakan proses belajar dan para pelaku yang menghidupkannya setiap hari. Ketika guru mendapatkan penghargaan yang manusiawi dan dukungan yang adil, barulah fondasi kokoh yang disiapkan negara dapat menjelma menjadi pengalaman belajar yang sungguh dirasakan dan bermakna bagi setiap murid.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar