Dalam pandangannya, Kejaksaan Agung memainkan peran sentral sebagai motor penggerak kepercayaan itu. Langkah konkret Kejagung, seperti mengekspose hasil penyitaan dalam pemberantasan korupsi, dinilai sebagai tindakan yang langsung direspon baik oleh masyarakat.
Transparansi Aksi Nyata yang Disambut Publik
Maruarar merujuk pada momen ketika Kejaksaan Agung memamerkan uang senilai Rp 6,6 triliun hasil tindakan korupsi di hadapan Presiden. Aksi visual yang transparan ini, menurutnya, menjadi bukti nyata yang diharapkan publik.
"Kepuasan terhadap Presiden ini ditopang kuat oleh penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang konsisten. Kejaksaan Agung di bawah arahan Presiden telah menunjukkan performa luar biasa. Contohnya, aksi menunjukkan tumpukan uang Rp6,6 triliun hasil korupsi, itu disetujui oleh lebih dari 70 persen masyarakat yang tahu kasusnya," tegasnya.
Data survei memperkuat pernyataan itu. Sekitar 50,2 persen publik mengetahui aksi tersebut, dan dari kelompok ini, mayoritas sekitar 70,7 persen menyatakan setuju atau sangat setuju.
"Masyarakat ingin bukti nyata, bukan sekadar kata-kata. Langkah transparan Kejaksaan ini membuat publik yakin bahwa korupsi benar-benar diberantas hingga ke akar-akarnya, dan itulah yang membuat rakyat sangat puas pada kepemimpinan Presiden saat ini," ungkap Maruarar menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Gubernur Bali Desak Optimalisasi Aplikasi dan Pendataan PMI Krama Bali
Mulan Jameela Bantah Tudingan Hina Profesi Guru, Sebut Berita Bohong
Arab Saudi Apresiasi Resolusi Dewan HAM PBB yang Kutuk Serangan Iran
Serangan Udara AS-Israel Tewaskan Dua Remaja di Iran, Dampak Merambah ke Abu Dhabi