Minggu pagi di Bangetayu Kulon, Semarang, terasa berbeda. Keriuhan pasar memadati area, tapi ini bukan pasar biasa. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, hadir untuk meresmikan sebuah uji coba yang disebutnya sebagai 'perkawinan' dua program: Koperasi Desa Merah Putih dan Pasar Rakyat sembako murah. Hasilnya? Warga berjubel antusias menyambutnya.
Ratusan pelaku UMKM dari Genuk dan sekitarnya memenuhi lokasi. Lapak-lapak mereka menjajakan beragam produk, mulai dari kuliner khas hingga barang kebutuhan sehari-hari. Namun begitu, daya tarik utama justru ada di dalamnya: Pasar Rakyat yang menjual bahan pokok dengan harga sangat terjangkau. Kombinasi ini sukses menarik perhatian massa.
Dalam keterangan tertulisnya, Agustina tak henti memberikan apresiasi.
"Apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Kelurahan Bangetayu Kulon dan Koperasi Merah Putih atas kolaborasi strategis ini. Semoga menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam mengintegrasikan koperasi dengan basis ekonomi kerakyatan," ujarnya.
Ia melihat sinergi antara program pusat yang masih baru ini dengan program Pasar Murah Pemkot yang sudah berjalan empat tahun sebagai langkah tepat. Tujuannya jelas: memudahkan masyarakat mengakses sembako murah sekaligus memberdayakan ekonomi lokal. Menurutnya, pasar yang rutin digelar setiap pekan ini menciptakan ekonomi sirkular yang sehat.
"Masyarakat bisa jalan sehat lalu jajan, ini memastikan inflasi bisa ditekan dan pertumbuhan ekonomi tetap baik. Saya minta Pak Camat segera ajukan usulan pengerasan jalan agar nantinya bisa digunakan maksimal untuk lapak UMKM kita," tegas politikus PDI Perjuangan itu.
Di sisi lain, Agustina juga mengingatkan satu hal penting yang kerap terlupa: kebersihan. Ia meminta semua pihak bertanggung jawab atas sampahnya usai acara berakhir.
"Ketika selesai bubaran pasarnya, saya minta para warga itu ikut menyelesaikan sampahnya masing-masing. Juga ikut memungut sampah yang dalam pandangan matanya. Tidak peduli siapa yang buang, kalau berada di dalam pandangannya, tolong dipungut diambil terutama yang berada di jalur air. Karena ini juga untuk kebaikan kita semua," kata Agustina.
Antusiasme warga, baik pelaku UMKM maupun pembeli, terlihat nyata. Mereka merasa diberi perhatian dan kesempatan. Walid, Ketua Paguyuban Pasar Rakyat, mengakui perkembangan pesat ini. Dari yang awalnya cuma 20 lapak, kini membengkak jadi 250. Masih ada puluhan lagi yang mengantre karena tempat tak mencukupi.
"Tujuan kami dulu pertama kali membangun adalah mengumpulkan UMKM yang kita berdayakan di satu tempat. Alhamdulillah dari 20 lapak sampai hari ini sudah 250, dan masih ada sekitar 75 pelapak lagi yang mengantre karena keterbatasan tempat," ungkap Walid.
Harapannya sederhana: dukungan pemkot untuk perbaikan dan perluasan infrastruktur, seperti pengerasan jalan, agar pasar bisa berkembang lebih besar lagi.
Di bazar gabungan ini, warga bisa mendapatkan paket sembako dengan harga spesial, ada yang serba Rp 30.000 dan Rp 75.000. Minyak Kita juga dijual sekitar Rp 15.000-an. Langkah ini diharapkan bisa meringankan beban warga menghadapi fluktuasi harga yang kerap terjadi jelang Ramadan.
Artikel Terkait
Pidie Jaya Percepat Huntara untuk 12.000 Pengungsi Jelang Ramadan
Video Viral Pungli di Kawasan Kota Tua, Pemprov DKI Janji Tindak Tegas
Changan Tunjukkan Komitmen Jangka Panjang di Indonesia Lewat Debut IIMS 2026
Proyek Infrastruktur Ramai, Industri Mesin Masih Pilih Rekrut Kontrak dan Otomasi