MURIANETWORK.COM - Setiap tanggal 11 Februari, dunia memperingati Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains. Peringatan tahunan ini, yang dikenal juga sebagai International Day of Women and Girls in Science, bertujuan untuk memastikan akses dan partisipasi penuh perempuan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Upaya ini didorong oleh kesadaran bahwa meski kemajuan telah dicapai, kesenjangan gender di sektor strategis ini masih menjadi tantangan global yang perlu diatasi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
Mengurai Akar Persoalan: Latar Belakang Peringatan
Isu kesenjangan gender dalam STEM bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, data menunjukkan bahwa perempuan masih kurang terwakili di berbagai tingkatan dan disiplin ilmu tersebut di seluruh penjuru dunia. Situasi ini bertahan meski partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi secara umum telah mengalami peningkatan yang signifikan.
Bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kesetaraan gender merupakan prinsip inti. Pemberdayaan perempuan dan anak perempuan dinilai bukan hanya sebagai masalah keadilan, tetapi juga sebagai pengungkit penting bagi kemajuan ekonomi dan pencapaian Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Komitmen ini telah diwujudkan dalam berbagai langkah konkret.
Pada Maret 2011, misalnya, Komisi tentang Status Perempuan telah menyepakati kesimpulan penting mengenai akses pendidikan, pelatihan, serta partisipasi dalam sains dan teknologi bagi perempuan. Dua tahun kemudian, Majelis Umum PBB semakin mempertegas hal tersebut.
Melalui sebuah resolusi tentang sains, teknologi, dan inovasi untuk pembangunan, mereka mengakui bahwa partisipasi penuh dan setara perempuan dalam bidang-bidang tersebut merupakan prasyarat mutlak untuk mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Operasi Ketupat 2026 Berakhir, Satu Personel Gugur Akibat Kelelahan Ekstrem
Pimpinan IRGC Tantang AS: Coba Lakukan Invasi Darat, Kami Sudah Siap
Korlantas: 42% Pemudik Belum Kembali, Antisipasi Puncak Balik Kedua
Polri Siagakan Personel hingga 29 Maret, 42 Persen Pemudik Belum Kembali ke Jakarta