MURIANETWORK.COM - Kota Solo kembali menunjukkan wajah keberagaman yang harmonis melalui perayaan Tahun Baru Imlek 2577. Perhelatan yang digelar di kawasan Sudiro Prajan, Jebres, ini tidak hanya menjadi momen bagi warga Tionghoa, tetapi telah menjelma menjadi simbol persatuan yang dirayakan bersama seluruh masyarakat. Nuansa akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa tampak begitu kental, mulai dari kirab budaya, busana, hingga makna filosofis di balik setiap ritual.
Heritage in Harmony: Kirab yang Mewujudkan Harmoni
Kemeriahan Imlek di Solo tahun ini diwarnai dengan kirab bertajuk "Heritage in Harmony". Kawasan Sudiro Prajan yang bersejarah itu ramai dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung perpaduan budaya yang unik. Acara dibuka dengan prosesi Umbul Mantram yang memukau, sebuah tradisi yang sarat makna.
Bagi warga setempat, Umbul Mantram bukan sekadar pembuka acara. Ritual ini dipahami sebagai doa dan harapan agar kehidupan bermasyarakatakat semakin rukun dan harmonis. Hal ini sangat relevan mengingat Sudiro Prajan telah lama menjadi contoh nyata pembauran etnis Tionghoa dan Jawa yang berlangsung damai sejak zaman kerajaan.
Busana hingga Sesaji: Akulturasi dalam Setiap Detail
Keanggunan akulturasi itu terlihat jelas pada penampilan para peserta kirab. Mereka tampil anggun dengan balutan busana tradisional, di mana kebaya khas Jawa berdampingan secara selaras dengan cheongsam dari budaya Tionghoa. Perpaduan visual ini menegaskan bahwa kedua budaya telah menyatu tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Tak hanya melalui pakaian, perpaduan juga diwujudkan dalam prosesi pengangkutan jodang atau peti berisi makanan sesaji serta tumpeng. Dengan khidmat, warga mengaraknya menyusuri jalan utama Sudiro Prajan. Ritual ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap leluhur.
Seorang peserta yang terlibat dalam kirab mengungkapkan semangat kebersamaan yang mendasari acara ini. "Imlek bukan sekedar milik warga Tionghoa saja di sini, melainkan simbol persatuan dan keberagaman yang menyatu dalam tradisi," tuturnya. Pernyataan itu merefleksikan pandangan masyarakat Solo secara lebih luas, di mana perbedaan budaya justru menjadi benang perekat sosial yang kuat.
Dari lapangan, teramati bahwa antusiasme warga dari berbagai latar belakang sangat tinggi. Suasana hangat dan penuh toleransi mengiringi setiap langkah kirab, memperlihatkan bahwa nilai-nilai kebersamaan telah mengakar dalam dalam kehidupan sehari-hari di kota ini. Perayaan Imlek di Solo, dengan demikian, telah melampaui makna keagamaannya semata dan menjadi sebuah festival budaya bersama yang dinantikan.
Artikel Terkait
Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Dua Kecamatan Tulungagung
ANTARA Gelar Pameran Foto dan Edukasi Media Jelang HPN 2026 di Serang
Ahmad Habibie Raih Gelar Kiper Terbaik Piala Asia Futsal 2026
Jadwal Salat 8 Februari 2026 untuk DKI Jakarta, Imsak Pukul 04.28 WIB