Menurut Bamsoet, langkah UNPERBA ini adalah bentuk nyata keberpihakan pada keadilan sosial. Pendidikan tinggi, baginya, adalah instrumen kunci untuk memutus mata rantai kemiskinan. Data BPS pun mendukung: lulusan perguruan tinggi punya peluang pendapatan lebih baik dan lebih adaptif di dunia kerja.
“Beasiswa Orang Tua Asuh ini bukan sekedar bantuan finansial, tetapi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.
“Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pendidikan akan kembali dalam bentuk produktivitas, inovasi, dan kontribusi nyata bagi bangsa.”
Bamsoet sangat mengapresiasi komitmen pimpinan UNPERBA dalam mendorong pendidikan inklusif. Dia berharap dukungan untuk program ini meluas, datang dari dunia usaha, alumni, hingga tokoh masyarakat. Tujuannya agar program seperti ini bisa berjalan terus.
“Jika semakin banyak kampus dan elemen masyarakat mengambil peran seperti UNPERBA, maka cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa tidak berhenti sebagai slogan,” pungkas Bamsoet.
“Tetapi benar-benar hidup dalam kebijakan dan tindakan nyata.”
Artikel Terkait
Paus Serukan Gencatan Senjata dan Dialog untuk Akhiri Konflik di Timur Tengah
Jasa Marga Imbau Disiplin Pengendara di Jalur One Way dan Contraflow Arus Balik
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Perairan Halmahera Selatan
Kas PT Vale Indonesia Menyusut Drastis Didorong Ekspansi Investasi