MURIANETWORK.COM - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Phnom Penh, kembali memfasilitasi kepulangan sepuluh warga negara Indonesia yang terdampak operasi penipuan daring di Kamboja. Gelombang ketiga pekerja migran bermasalah ini tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Kamis, 5 Februari 2026, menggunakan penerbangan komersial. Kedatangan mereka menandai kelanjutan upaya sistematis pemerintah dalam mengevakuasi ratusan WNI yang terperangkap situasi rentan pasca pengetatan regulasi oleh otoritas setempat.
Penanganan Terpadu Setiba di Tanah Air
Begitu mendarat di Indonesia, kesepuluh warga negara tersebut langsung diserahkan kepada instansi terkait untuk menjalani proses penanganan lebih lanjut. Prosedur standar ini dirancang untuk memastikan setiap individu menerima pendampingan yang komprehensif, mulai dari aspek kesehatan, hukum, hingga reintegrasi sosial. Langkah cepat ini menunjukkan koordinasi yang telah dipersiapkan untuk menyambut mereka yang pulang dari kondisi yang tidak mudah.
Gelombang Pengungsi yang Terus Meningkat
Repatriasi ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah Kamboja yang menjadikan pemberantasan penipuan daring sebagai prioritas nasional. Kebijakan tegas itu memaksa sejumlah perusahaan pelaku "online scam" menghentikan operasi dan meninggalkan pekerjanya, termasuk banyak WNI. Situasi ini memicu lonjakan permintaan perlindungan. Catatan dari KBRI Phnom Penh menunjukkan, dalam rentang 16 Januari hingga 3 Februari 2026 saja, sudah ada 3.173 WNI yang datang langsung meminta bantuan pulang. Angka itu diprediksi masih mungkin bertambah.
Menyikapi tingginya permintaan, pihak berwenang saat ini memprioritaskan pemulangan bagi warga yang telah menyatakan kesiapan membiayai tiket kepulangan secara mandiri. Mekanisme ini dijalankan untuk mempercepat proses sekaligus mengelola sumber daya yang ada secara lebih efisien.
Rangkaian Evakuasi yang Berlanjut
Kedatangan gelombang ketiga ini merupakan bagian dari operasi repatriasi berkelanjutan. Sebelumnya, pemerintah telah memulangkan 36 WNI pada gelombang pertama tanggal 30 Januari 2026, disusul 31 orang pada keesokan harinya. Seorang warga negara lainnya juga telah tiba lebih dulu pada Rabu, 4 Februari 2026. Setiap penerbangan yang membawa mereka pulang merefleksikan upaya diplomatik dan logistik yang dijalankan tanpa henti di lapangan.
Imbauan Tegas untuk Mencegah Korban Baru
Di tengah upaya evakuasi, Kementerian Luar Negeri tidak henti-hentinya mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Pemerintah mengimbau seluruh WNI, terutama calon pekerja migran, untuk selalu mengikuti prosedur resmi dan mematuhi peraturan yang berlaku, baik di Indonesia maupun di negara tujuan.
“Kepatuhan terhadap prosedur resmi sangat penting untuk menghindari risiko penipuan, eksploitasi, hingga permasalahan hukum yang dapat merugikan diri sendiri maupun keluarga di tanah air,” tegas pihak Kemlu RI dalam pernyataannya.
Peringatan ini disampaikan berdasarkan pengalaman langsung menangani kasus-kasus yang kompleks, di mana ketidakpatuhan pada jalur resmi sering menjadi pintu masuk bagi praktik eksploitatif.
Komitmen Pemantauan dan Koordinasi
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi di Kamboja secara saksama. Fokus utama adalah memastikan proses pemulangan seluruh WNI yang membutuhkan dapat berjalan dengan prinsip keamanan, kecepatan, dan koordinasi yang solid. Upaya di lapangan akan terus dievaluasi untuk merespons dinamika yang ada, dengan keselamatan warga negara sebagai prioritas tertinggi.
Artikel Terkait
Barcelona Amankan Fermin Lopez dengan Kontrak Panjang hingga 2031
Remaja Anak Pejabat Tabrak Warung Pakai Mobil Dinas di Mamuju, Dua Orang Terluka
Wamenkes: Peserta PBI yang Nonaktif Dapat Reaktivasi Mandiri
Ledakan Tambang Batu Bara Ilegal di India Tewaskan 23 Orang