Pagi itu di Gedung D Kemdikti Saintek, Senayan, Jakarta, tiga lembaga duduk dalam satu meja. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bertemu dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, plus Rektor Universitas Nasional (UNAS) El Amry Bermawi Putera. Intinya sih, mereka mau jajaki kerja sama. Tapi obrolannya nggak cuma soal nota kesepahaman atau proyek teknis belaka. Lebih dari itu, ada semangat untuk menyelaraskan lagi antara pendidikan tinggi dan kebudayaan nasional.
Fadli Zon langsung menekankan satu hal yang menurutnya fundamental: ikatan historis UNAS dengan kebudayaan Indonesia. Baginya, ini bukan sekadar universitas biasa.
Dari situlah pembicaraan mengalir. Fadli kemudian mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto punya perhatian khusus pada bidang sejarah. Ia merasa, lulusan sejarah harus dapat ruang yang lebih luas, tidak kalah dari lulusan teknik yang gampang direkrut perusahaan.
Ia bahkan mendorong agar ada konferensi sejarah nasional tahunan. Tujuannya jelas: mengumpulkan akademisi dan pakar untuk memperkuat narasi Indonesia sebagai pusat ilmu dan peradaban.
Artikel Terkait
Pengelola Terapkan Sistem Buka-Tutup Rest Area KM 52B untuk Antisipasi Macet Jakarta-Cikampek
Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara Israel di Dekat Fasilitas Nuklir Dimona
Rudal Iran Tembus Sistem Davids Sling, Lukai Puluhan di Israel Selatan
Puncak Arus Balik Lebaran di Ketapang-Gilimanuk Diprediksi 26-29 Maret 2026