“Yang membuat saya tetapi sekarang menjadi manusia yang seperti ini, itu adalah karena keyakinan, keteguhan, keuletan, keberanian, dan kesabaran, dipadu dengan etika moral dan hati nurani.”
Ia pun bersyukur masih bisa menjalankan peran ganda sebagai ibu bagi ketiga anaknya. Karir politiknya sendiri sudah dimulai sejak lama. Dari Ketua Umum PDIP di tahun 1993, lalu anggota DPR, Wakil Presiden, hingga puncaknya menjadi Presiden. Pengalaman suaminya, almarhum yang pernah menjabat Ketua MPR RI, juga menjadi bagian dari perjalanan keluarganya.
"Kepemimpinan, baik di rumah maupun di masyarakat, tidak pernah tumbuh dalam kesendirian. Dan di dalam keluarga saya, baik rumah ataupun masyarakat, itu adalah semua perlu kepemimpinan," imbuhnya.
Bagi Megawati, esensi kepemimpinan perempuan justru terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai peran, bukannya mempertentangkannya. Lebih dari sekadar jabatan, kepemimpinan adalah soal menghadirkan empati dan kontribusi nyata.
"Ketika perempuan menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan dalam seluruh ruang hidupnya, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi terwujudnya yang dicita-citakan kita bersama, yaitu Human Fraternity," paparnya.
Nilai-nilai itu, tutupnya, adalah warisan para pendiri bangsa dan tetap relevan untuk membangun peradaban global ke depan.
Artikel Terkait
Seif Al-Islam Khadafi Tewas Diserbu Komando di Kediamannya
DPRD Se-Indonesia Protes Pemotongan Dana Transfer ke Daerah
Megawati Bicara di Abu Dhabi: Gotong Royong Kunci Redam Konflik Horizontal
Megawati: Perempuan Tak Perlu Terjebak Dilema Palsu antara Rumah dan Masyarakat