Vivian Idris dari MTN Seni Budaya melihat momen ini sebagai pintu masuk yang vital.
katanya.
Nuansa Asia Tenggara tahun ini terasa sangat kental di Clermont-Ferrand. Untuk pertama kalinya, kawasan kita jadi fokus utama festival. Kehadirannya tak hanya lewat film-film, tapi juga lewat partisipasi aktif di Short Film Market. Bahkan, ada bilik khusus Asian Film Alliance Network (AFAN) yang berfungsi sebagai simpul pertemuan bagi delegasi Asia Tenggara. Keberadaan AFAN ini sendiri adalah hasil kolaborasi dengan Thai Film Foundation, bertujuan meningkatkan visibilitas Asia di pasar global.
AFAN sendiri adalah jejaring yang cukup solid, menghubungkan badan perfilman nasional dari Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Mongolia, Filipina, Singapura, dan Taiwan. Dibentuk pertama kali di Cannes 2023, jejaring ini terus berkembang dan bahkan telah menjalin kemitraan dengan asosiasi serupa di Eropa.
Di tengah hiruk-pikuk pasar film, ada juga diskusi panel yang menggelitik bertajuk 'Money Flow in the Short Film Industry'. Diskusi yang digelar Short Film Conference ini akan menampilkan Minikino sebagai anggota aktif, dan menariknya, Khozy Rizal lagi-lagi terlibat sebagai panelis. Dia juga akan berbicara di sesi 'Industry Round Table: SEA Upcoming Talents' keesokan harinya.
Puncak dari semua ini mungkin adalah program khusus bertajuk Indonesian Entourage: A Sleeping Giant. Sebuah program screening yang menghadirkan enam film pendek Indonesia pilihan. Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino Film Week yang bertindak sebagai kurator, punya alasan kuat memilih keenam karya tersebut.
jelasnya.
Keenam film itu adalah: Anak Macan (Amar Haikal), Dengarlah Nyanyian Ping Pong (Andrew Kose), αLPα (Dhiwangkara Seta), Pengais Mimpi (Beny Kristia), Dihapus dari Peta (Maarij Reka), dan Anaktana (Theogracia Rumansara & Richard Suwae).
Tak ketinggalan, ada juga kabar baik dari lini animasi. Produser Olivia Griselda berhasil masuk ke Animation Lab lewat film My Dear Little Red Monster, sebuah kolaborasi Indonesia-Singapura.
Melalui program screening seperti ini, harapannya jelas: film-film tersebut bisa menarik perhatian distributor global, membuka peluang akuisisi, dan yang paling penting, melanjutkan perjalanannya di sirkuit festival internasional lainnya. Semua mata kini tertuju pada raksasa yang perlahan mulai terbangun.
Artikel Terkait
Di Balik Retorika Panas, Iran dan AS Diam-diam Lanjutkan Negosiasi
Polda Metro Jaya Cegah Indah Megahwati ke Luar Negeri Terkait Kasus Korupsi Kementan
Pekerja Migran Indonesia Tewas di Kapal Korea, Pemerintah Janji Kawal Hak Keluarga
Jembatan Tua Ambruk, Empat Desa di Pandeglang Terisolasi