“Kapitalisasi besar, tetapi saham yang benar-benar beredar di publik sangat terbatas. Ketika ada sentimen negatif dunia, pasar langsung goyah. Kebijakan free float 15% adalah koreksi penting agar harga saham lebih mencerminkan mekanisme pasar yang sehat.”
Selain free float, rencana pemerintah menaikkan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal dari 8% jadi 20% juga dia soroti. Kebijakan ini diyakini bisa memperkuat pondasi. Dengan basis investor dalam negeri yang lebih besar, ketergantungan pada dana asing yang fluktuatif bisa dikurangi, dan stabilitas IHSG diharapkan lebih terjaga.
“Dengan memperbesar porsi dana pensiun dan asuransi, pasar modal kita memiliki bantalan yang lebih kuat,” jelas Bamsoet.
“Ini penting agar gejolak eksternal, baik dari MSCI, lembaga pemeringkat, maupun bank investasi asing, tidak langsung mengguncang sendi-sendi bursa.”
Terakhir, soal percepatan demutualisasi BEI. Bamsoet menilai ini agenda krusial yang sudah tertunda terlalu lama. Demutualisasi bisa meminimalisir konflik kepentingan antara pengelola bursa dan anggotanya, sekaligus membuka peluang bagi investor strategis baru untuk masuk.
“Pasar modal adalah cermin kepercayaan,” pungkasnya.
“Ketika tata kelola diperbaiki dan arah kebijakan jelas, investor akan kembali. Arahan Presiden Prabowo memberi sinyal kuat bahwa Indonesia serius membangun pasar modal yang adil, transparan, dan kompetitif.”
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka