"Selain itu, kami juga ingin belajar bagaimana mendorong tumbuh kembang investasi dengan tetap menjaga kondusivitas daerah," tambahnya.
Nah, soal investasi inilah yang menarik. Agenda hari ketiga membawa mereka keluar kota, menuju Kecamatan Pesanggaran. Di sana, mereka meninjau program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Bumi Suksesindo (PT BSI), pengelola Tambang Emas Tujuh Bukit. Mereka melihat Rumah Pintar binaan perusahaan di Dusun Silirbaru, sebagai contoh nyata kolaborasi perusahaan dengan warga sekitar.
Tak hanya itu, delegasi juga diajak melihat lebih dekat operasional tambang melalui Mine Tour. Sebelumnya, mereka sempat menikmati pesona Pantai Pulau Merah yang terkenal itu. Kunjungan ke sektor pertambangan ini rupanya punya alasan kuat.
Mahyudin menegaskan, ada kemiripan antara Pohuwato dan Banyuwangi. Keduanya sama-sama memiliki tambang emas skala besar. Di Pohuwato ada Tambang Emas Pani, dan menariknya, kedua tambang ini berada di bawah naungan induk perusahaan yang sama, PT Merdeka Copper Gold Tbk.
"Kami ingin memastikan keberadaan investasi benar-benar memberikan manfaat nyata," tegas Mahyudin. Manfaat itu, lanjutnya, harus terasa mulai dari kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD), peningkatan kesejahteraan masyarakat, sampai penyerapan tenaga kerja lokal. Model yang sudah berjalan di Banyuwangi itulah yang ingin mereka pelajari.
Pada akhirnya, studi tiru ini diharapkan bukan sekadar jalan-jalan. Pemkab Pohuwato berharap bisa mengadopsi dan menyesuaikan skema kolaborasi yang efektif antara pemerintah, masyarakat, dan swasta. Tujuannya jelas: untuk memacu pembangunan di daerah mereka sendiri, Gorontalo.
Artikel Terkait
Es Legen di Pantura Berujung Mencekam: Rp 140 Juta Raib Digasak Maling
Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Lumajang Dini Hari
Anggota DPRD Pelalawan Diperiksa Polisi Terkait Ijazah Orang Lain
Politisi Mali Divonis Tiga Tahun Penjara di Pantai Gading Atas Tuduhan Hina Presiden